Selasa, 17 Mei 2011

ANALISIS PEMBELAJARAN MUFRADAT DI MTS MAMBAUS SHOLIHIN

uBAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Belajar bahasa merupakan usaha yang tidak mudah dan terkadang sangat menjenuhkan, bahkan juga bikin orang mengalami frustasi. Hal itu karena belajar bahasa merupakan usaha membangun konsep baru dalam diri seseorang untuk dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan pemilik bahasa tersebut. Kondisi bahasa baru (arab) terssebut adakalanya sangat berbeda dengan kondisi bahasa ibu, baik dalam tatanan fonologi (مخرج), morfologi (صرف), sintaksis (نحو), dan semantik (معنى), dan adakalanya memiliki kemiripan dengan kondisi bahasa ibunya (Rosyidi, 2009:v). Apapun kondisinya belajar, memahami, menguasai suatu bahasa sangatlah penting.
Salah satu faktor yang juga ikut andil dalam kemampuan seseorang untuk memahami dan menguasai bahasa asing, missal bahasa arab, yaitu menguasai kosakata (baca:mufrodat). Karena tanpa mufrodat seseorang gak akan bisa berbicara dengan bahasa arab. Dan penguasaan mufrodat seseorang terkadang dipengaruhi oleh pembelajaran kosakata (baca:ta’lim al-mufrodat). Jadi ta’lim al-mufrodat yang efektif sangat mempengaruhi terhadap kemampuan seseorang dalam menguasai bahasa arab.
Dan kenyataan di pondok, missal PP Mamba’us Sholihin, sebagian santri khususnya santri MTs masih banyak yang belum menguasai mufrodat, padahal mereka telah berdomisili di pondok selama lebih dari satu tahun.
Dari masalah diatas, kiranya perlu dilakukan analisis mengapa santri yang telah berdomisili di pondok selama lebih dari satu tahun masih belum menguasai mufrodat. Mungkin banyak sudut pandang yang bisa digunakan untuk melakukan analisis ini, tapi kami mencoba untuk menganalisis dari segi ta’limul mufrodat.
1.2. Rumusan Masalah
Dari paparan latar belakang diatas bisa dikeluarkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah teknisi ta’lim al-mufrodat di PP Mamba’us Sholihin untuk kalangan siswa/santri MTs?
2. Adakah problem yang menjadikan proses ta’lim al-mufrodat itu kurang efektif?
3. Bagaimanakah teknik ta’lim al-mufrodat yang efektif untuk ditarapkan di PP Mamba’us Sholihin?

1.3. Tujuan Analisis
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah “Metologi Pembelajaran Bahasa Arab”
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui teknisi ta’lim al-mufrodat dai PP Mamba’us Sholihin untuk kalangan siswa/santri MTs
2. Mengetahui problem yang menjadikan proses ta’lim al-mufrodat itu kurang efektif
3. Mengetahui teknik ta’lim al-mufrodat yang efektif untuk ditarapkan di PP Mamba’us Sholihin

1.4. Manfaat Penulisan
Agar menjadi bahan evaluasi bagi si pengajar mufrodat agar ta’lim al-mufrodat bisa lebih efektif. Dengan begitu para santri menjadi lebih bersemangat dalam mendalami bahasa arab

BAB II
PEMBAHASA

2.1. Kegiatan Ta’lim al-Mufrodat di Kalangan Santri MTs Mamba’us Shalihin
Di suatu saat ketika pengurus pengembangan bahasa arab keliling untuk kontrol (baca:daur) di setiap kamar dan tepat-tepat lain apakah ada santri yang tidak berbahasa resmi, si pengurus menemuka santri yang berbahasa jawa. Ketika santri itu ditanyai apa bahasa arabnya ka yang kamu ucapkan tadi, santri itu menjawab: tidak tahu. Padahal kata yang ditanyakan merupakan kata sehari-hari, lebih ironisnya lagi santri itu telah berdomisili di PP Mamba’us Sholihin selama dua tahun lebih.
Dari hasil daur tercatat santri MTs yang terjaring tidak berbahasa resmi mencapai lebih kurang 50 santri per harinya, itupun ketika malam harinya. Dan yang terjaring hari ini lebih kurang 50 % merupakan wajah yang berbeda jika dibandingkan dengan yang terjaring pada daur kemarin.
Ketika pengembangan bahasa di tinjau dari segi yang lain, yaitu dari sisi ta’lim al-mufradat, baik ketika kursus ataupun drill, kita akan menemukan teknik atau cara yang digunakan berupa cara sebagai berikut: pengajar memberikan mufrodat beserta terjemahan bahasa indonesianya sekaligus. Fenomena inilah yang banyak ditemui dalam kegiatan ta’lim al-mufrodat di kalangan santri MTs Mamba’us Shaolihin, khususnya ketika drill
2.2. Problem Yang Menjadikan Ta’lim Al-Mufrodat Tidak Aktif
Dari fenomena ketidak-efektifan ta’lim al-mufrodat di tingkat MTs Mamba’us Sholihin besar kemungkinan disebabkan factor dari guru yang kuran menguasai cara/teknik ta’lim al-mufrodat baik teoritis ataupun praktis. Karena dengan guru/pengajar menguasainya secara tidak langsung dapat menarik minat siswa untuk memahami dan menguasai bahasa arab lebih mendalam.
Jadi masalah yang menghambat keefektifan ta’lim al-mufrodat yaitu kurangnya penguasaan guru terhadap cara ta’lim al-mufrodat baik teoritis ataupun praktis
2.3. Teknik Ta’lim Al-Mufrodat Yang Efektif
Dalam pengajaran mufrodat pada siswa, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan agar ta’limal-mufrodat berjalan efektif dan membuahkan hasil yang diharapkan. Dalam hal ini Abdul Wahab dalam bukunya yang berjudul Mdia Pembelajaran Bahasa Arab (2009:54) dengan menukil dari Muhammad Isma’il Shinny mengatakan: bahwa sebaiknya ta’lim al-mufrodat melalui babarapa tahapan yaitu
1. Dengan cara menunjuk langsung benda yang dimaksud. Jika yang dikehendaki ada disekitarnya. Contoh: jika lokasi belajar di lapangan maka guru langsung menunjuk sebuah benda dengan mengatakan الشجرة tanpa mengatakan pohon
2. Dengan cara menghadirkan miniatur dari mufrodat yang akan diajarkan. Contoh: jika guru ingin mengajarkan kata السيّارة maka guru cukup menghadirkan sebuah miniature dari mobil
3. Dengan memberikan gambar mufrodat yang akan diajarkan. Contoh: bila guru ingin mengajarkan kata التفّاح maka guru tinggal menunjukkan gambar sebuah apel
4. Apabila mufrodat yang akan diajarkan berkenaan dengan gerak/kata kerja, maka cara yang digunakan adalah dengan memperagakannya. Contoh: kata “duduk” maka guru memperagakannya dengan cara berdiri didepan kursi, kemudian duduk di kursi dengan mengucapkan جلس
5. Dengan cara memasukkan mufrodat yang diajarkan kedalam susunan kalimat. Jadi apabila guru ingin mengajarkan kata ماهر maka kata tersebut dimasukkan kedalam sebuah kalimat seperti: أحمد طالب ماهر
6. Dengan cara memberikan pepadanan kata/sinonim (المترادف). Jika kata yang diajarkan المنزل maka guru menyebutkan sinonimnya misal البيت
7. Dengan menyebutkan lawan kata/antonimnya (المضاد). Contoh: apabila guru ingin mengajarkan kata قبيح maka guru juga menyebutkan kata جميل
8. Dengan memberikan definisi dari kata yang diajarkan. Contoh: ketika guru memberikan kata المفتاح maka ia memberi definisinya missal
"الألة لفتح الباب المقفول"
Dari langkah-langkah diatas bisa diambil pernyataan, bahwa langkah ke-1 sampai ke-4dapat digunakan untuk mengajar pemula, sedangkan untuk siswa yang sudah agak lama bias menggunakan cara ke-5 sampai ke-8, karena dengan cara ke-5 sampai ke-8 seorang siswa bisa memperoleh mufrodat yang lebih banyak. Maka dari itu jika cara ini digunakan untuk mengajar siswa yang sangat pemula maka kemungkinan dapat menjadikan siswa tersebut merasa kesulitan dalam menerima bahasa kedua (arab), bahkan bisa juga frustasi.
Namun bukan berarti dengan adanya 8 cara diatas guru tidak boleh menggunakan cara menterjemah. Cara member terjemah bisa digunakan jika dengan 8 cara diatas siswa belum dapat memahami mufrodt yang diajarkan.










BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan didepan bisa ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Ta’lim al-mufrodat di tingkat MTs Mamba’us Sholihin masih belum efektif dikarenakan kurangnya penguasaan guru terhadap cara ta’lim al-mufrodat baik secara teoritis ataupun praktis
2. Cara ta’lim al-mufrodat yang bisa digunakan di tingkat MTs Mamba’us Sholihin agar bisa efektif bisa menggunakan 8 cara sebagai berikut:
a. Dengan cara menunjuk langsung benda yang dimaksud. Jika yang dikehendaki ada disekitarnya.
b. Dengan cara menghadirkan miniatur dari mufrodat yang akan diajarkan.
c. Dengan memberikan gambar mufrodat yang akan diajarkan.
d. Apabila mufrodat yang akan diajarkan berkenaan dengan gerak/kata kerja, maka cara yang digunakan adalah dengan memperagakannya.
e. Dengan cara memasukkan mufrodat yang diajarkan kedalam susunan kalimat.
f. Dengan cara memberikan pepadanan kata/sinonim (المترادف).
g. Dengan menyebutkan lawan kata/antonimnya (المضاد).
h. Dengan memberikan definisi dari kata yang diajarkan.
3.2. Saran




DAFTAR PUSTAKA

Rosyidi, A. W. (2009). Media Pembelajaran Bahasa Arab. Malang: UIN-Malang Press.

Minggu, 15 Mei 2011

Rencana Pembelajaran

Rencana Pembelajaran

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : SMA kelas X/Semester 2
Materi Pembelajaran : Berperilaku Tercela
Pendekatan : Pembinaan dan pembiasaan, rasional, emosional, dan
fungsional
Metode : Ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas
Waktu : 4 jam pelajaran (2x pertemuan)
Standar kompetensi
Menghindari perilaku tercela
Kompetensi dasar.
1. Menjelaskan pengertian hasad, riya, aniaya dan diskriminasi
2. Menyebutkan contoh perilaku hasad, riya, aniaya dan diskriminasi
3. Menghindari hasad, riya, aniaya dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari
Indikator Pencapaian Hasil Belajar
1.1.Mampu menjelaskan pegertian hasad.
1.1.Mampu menjelaskan pengertian riya’.
1.1.Mampu menjelaskan pengertian aniaya.
2.1.Mampu menyebutkan cotoh perilaku hasad.
2.1.Mampu menyebutkan contoh perilaku riya’.
2.1.Mampu menyebutkan contoh perilaku aniaya dan diskriminasi.
1.1.Mampu menghindari perilaku hasad.
1.1.Mampu menghindari perilaku riya’.
1.2.Mampu menghindari perilaku aniaya.
1.3.Mampu menghindari perilaku diskriminasi.

Pengalaman belajar.
1. Mendisikusikan dengan kelompok tentang sifat hasud, riya, aniaya dan diskriminasi.
2. Membaca dan mempelajari Q.S An Nisa 32 dan 45, Q.S Al Baqarah 229, 35, dan 254, Q.S An Nisa 9 dan 30, Q.S Al Hujurat 11, Q.S Yunus 13, Q.S Al Maidah 39.
3. membiasakan diri berperilaku menghindari perbuatan hasud, riya’,aniaya dan diskriminasi
Materi
1. Sifat hasud.
2. Sifat riya’
3. Sifat aniaya.
4. Diskriminasi
.

TADARRUS
Q.S. An Nisa (4) : 32
وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Artinya : “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. An Nisa (4) : 32).
Q.S. Al Baqarah (2) : 264

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir[168].
[168]. Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.
Q.S. An Nisaa (4) : 142
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka [364]. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya[365] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[366]. ( Q.S. An Nisaa[4]: 142)
[364] Maksudnya: Alah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani Para mukmin. dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.
[365] Riya Ialah: melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.
[366] Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, Yaitu bila mereka berada di hadapan orang.
Q.S. Yunus (10) : 13

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa”.
URAIAN MATERI
Pendahuluan
Dalam pergaulan sehari-hari, umat Islam harus membiasakan dan mengembangkan sikap terpuji. Hal itu akan menjalin hubungan yang serasi, persahabatan yang kokoh serta persaudaraan yang kuat di antara umat Islam yang disebut Ukhuwah Islamiah.
Di lain pihak, umat Islam juga harus mewaspadai serta menjauhi sikap perilaku tercela. Karena hal itu akan merusak pergaulan serta memutuskan tali silaturahim. Dalam pembahasan berikut ini akan diuraikan beberapa sikap tercela, hasud, ria, dan aniaya, faktor penyebabnya dan cara menghindarinya.
1. Hasud
Salah satu penyakit hati yang sangat besar adalah hasud. Hasud ( dengki ) adalah sikap batin tidak senang terhadap kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berusaha untuk menghilangkannya dari orang tersebut. Imam Ghazali mengatakan bahwa hasud itu adalah cabang dari syukh ( الشخ) yaitu sikap batin yang bakhil berbuat baik.
Kata hasud berasal dari bahasa Arab, yaitu “hasadun” yang berarti dengki, benci. Dengki merupakan suatu sikap atau perbuatan yang mencerminkan rasa marah, tidak suka karena iri. Dalam kamus Bahasa Indonesia kata “hasud” diartikan membangkitkan hati seseorang supaya marah (melawan, memberontak, dan sebagainya). Dengan demikian yang dimaksud dengan hasud pada hakikatnya sama dengan hasad, yakni suatu perbuatan tercela sebagai akibat adanya rasa iri hati dalam hati seseorang. Rasululloh s.a.w. bersabda :
ﺩَﺏﱠﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْﺩَﺍۤﺀُﭐْﻷُﻣَﻢِﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْﺑَﻐْﻀَﺎﺀُﻭَﺣَﺴَﺪٌﻫِﻲَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺪﱢﻳْﻦِﻻَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺸﱠﻌْﺮِ
( ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺣْﻤَﺪُﻭَﭐﻟﺘﱢﺮْﻣِﺬِﻱﱡ )
Artinya : “Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit-penyakit umat terdahulu (yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur rambut”. (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)
Lebih jauh para ulama mengemukakan pengertian hasud atau hasad sebagai berikut :
1. Menurut Al Jurjani Al Hanafi dalam kitabnya “Al Ta’rifaat”, hasad ialah menginginkan atau mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki (mahsud) supaya berpindah kepadanya (orang yang mendengki).
2. Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin”, hasad ialah membenci nikmat Allah S.W.T. yang ada pada diri orang lain, serta menyukai hilangnya nikmat tersebut.
3. Menurut Sayyid Qutub dalam tafsir “Al Manar”, hasad ialah kerja emosional yang berhubungan dengan keinginan agar nimat yang diberikan Allah S.W.T. kepada seseorang dari hamba-Nya hilang dari padanya. Baik cara yang dipergunakan oleh orang yang dengki itu dengan tindakan supaya nikmat itu lenyap dari padanya atas dasar iri hati, ataau cukup dengan keinginan saja. Yang jelas motif dari tindakan itu adalah kejahatan.
Hal inilah, seperti yang dijelaskan Al Qur’an sebagai berikut :
( ۵4 : ﭐﻟﻨﱢﺴَﺎۤءُ ) ….. ﺃَﻡْﻳَﺤْﺴُﺪُﻭْﻥَﭐﻟﻨﱠﺎﺱَﻋَﻠَﻰﻣَﺎۤﺍٰﺗٰﻬُﻢُﭐﷲُﻣِﻦْﻓَﻀْﻠِﻪِ
Artinya : “ Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya …. (Q.S. An Nisa : 54)
Jadi hasud/hasad menurut istilah membenci nikmat Allah SWT yang dianugerahkan kepada orang lain, dengan keinginan agar nikmat yang didapat orang tersebut segera hilang atau terhapus.
Rasulullah saw menggambarkan betapa tercelanya kedengkian itu dengan sabdanya:
ﺇِﻳﱠﺎﻛُﻢْﻭَﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻓَﺈِﻥﱠﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻳَﺄْﻛُﻞُﭐْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِﻛَﻤَﺎﺗَﺄْﻛُﻞُﭐﻟﻨﱠﺎﺭُﭐﻟْﺤَﻄَﺐَ
( ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺑُﻮْﺩَﺍﻭُﺩَﻋَﻦْﺃَﺑِﻲْﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَﺭﺽ )
”Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR.Abu Daud dari Abu Hurairah). Ketika seseorang mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang yang didengki maka saat itu ia telah berlaku hasad, karena sesungguhnya kedengkian adalah membenci nikmat dan menginginkan lenyapnya nikmat itu dari orang yang mendapatkannya.
Pantaslah jika Rasulullah saw pernah menyebut seseorang sebagai penghuni surga akan lewat di depan sahabat-sahabatnya, yang ketika kejadian itu berulang tiga kali dalam tiga hari Rasulullah menyebutnya sebagai seorang dari penghuni surga, dan ketika ditelusuri oleh Abdullah bin Amer bin al-Ash dengan bermalam di rumah orang tersebut selama tiga malam, ia tidak pernah melihat amalan orang tersebut yang berlebihan, bahkan orang itu juga tidak bangun malam, kecuali jika berbalik dari tempat tidurnya ia menyebut Allah, ia tidak bangun kecuali untuk shalat subuh, dan tidak pernah mendengarnya berkata kecuali kebaikan.
Bahkan hampir saja Abdullah meremehkan amalannya. Ketika Abdullah mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah telah bersabda begini dan begitu, kemudian ia bertanya : ”Apakah gerangan yang membuatmu mencapai tingkatan tersebut?"
Orang tersebut menjawab: ”Tidak ada apa-apa kecuali yang kamu lihat, hanya saja aku tidak punya rasa benci dan dengki kepada salah seorang pun dari kaum muslimin yang dikaruniai Allah kebaikan”.
Di sinilah Abdullah menemukan jawaban itu, ia berkata :”Itulah rupanya yang membuatmu mencapai tingkatan itu, dan itulah yang tidak mampu kami lakukan”.
Demikianlah nikmatnya jika kita dapat menghidarkan diri dari berlaku hasad pada orang lain yakni surga, yang sesungguhnya terlihat sangatlah sepele persoalannya meskipun sesungguhnya berat dalam pengamalannya.
Cukuplah menjadi renungan kita bersama bahwasanya penyebab pembunuhan pertama kali di muka bumi ini terjadi yaitu anak Adam membunuh saudaranya adalah disebabkan oleh kedengkiannya pada saudaranya atas nikmat yang dimilikinya lalu kita bertanya masihkah kita harus mendengki?
Rasulullah bersabda:
ولا تحاسدوا ولاتقاطعوا ولاتباغضوا ولاتدابروا وكونوا عبادالله إخوانا كما أمركم الله ( رواه ﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ ومسلم )
Artinya : “Janganlah kamu sekalian saling mendengki, membenci, dan saling belakang-membelakangi; tetapi jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu”. ( H.R Bukhari dan Muslim )
Setiap muslim/muslimah wajib hukumnya menjauhi sifat hasud karena hasud termasuk sifat tercela dan merupakan perbuatan dosa. Simaklah QS. An Nisa’ [4]: 32


Artinya : ““Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin yang dinyatakan Imam Abu Laits Samarqandi, dijelaskan bahwa orang hasud itu telah menentang Allah SWT dalam beberapa hal, :
1. Membenci nikmat atau anugerah Allah SWT yang diberikan kepada orang lain.
2. Tidak rela menerima pembagian karunia Allah SWT atas dirinya.
3. Pelit terhadap pemberian Allah SWT, kalau bisa semua anugerah Allah dan kebajikan jatuh pada dirinya sendiri, tak perlu orang lain. Kalaupun orang lain memperolehnya diharapkan di bawah derajat dirinya.
4. Mengikuti pengaruh Ibnlis/syetan yang sebetulnya sangat merugikan dan menghinakan dirinya sendiri
Bahaya-bahaya sifat hasud antara lain sebagai berikut :
1) Merusak iman orang yang hasud.
الحسد ﻳُﻔْﺴِﺪُ الايمان كما يفسد الصبر العسل ( رواه ﭐﻟﺪﱠﻳْﻠَﻤِﻲﱡ )
Artinya : “Hasud itu dapat merusak iman sebagaimana jadam merusak madu” (H.R Ad Dailami)
2) Menghanguskan segala macam kebaikan yang pernah dilakukan.
ﺇِﻳﱠﺎﻛُﻢْﻭَﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻓَﺈِﻥﱠﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻳَﺄْﻛُﻞُﭐْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِﻛَﻤَﺎﺗَﺄْﻛُﻞُﭐﻟﻨﱠﺎﺭُﭐﻟْﺤَﻄَﺐَ
( رواه ابو داود )
Artinya : “Jauhilah darimu dari hasud karena sesungguhnya hasud itu memakan kebaikan-kebaikan seperti api memakan kayu bakar”. ( H.R Abu Dawud )
3) Tersiksa batinnya untuk selama-lamanya, sebab di dunia ini tidak sepi dari orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah baik berupa ilmu, pangkat, atau harta benda sementara dia selalu diliputi rasa dengki terus menerus.
Ada 2 macam hasud yang dibolehkn, Rasulullah bersabda
لاحسد إلا فى اثنين: رجل أتاه الله مالا فسلطه على هلكته فى الحق ورجل أتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها ( رواه ﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ )
Artinya : “Tidak boleh iri hati kecuali dalam 2 hal : 1. Seorang yang diberi oleh Allah SWT harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan hak ( kebenaran ) dan 2. Seorang yang diberi Allah SWT ilmu hikmah, maka ia pergunakan dan ia ajarkan”. ( H.R Bukhari )
4) Mengarah pada perbuatan maksiat, dengan berlaku hasud otomatis seseorang pasti melakukan hal-hal lain seperti ghibah (mengumpat/menggosip orang), berdusta, mencela, bahkan mengadu domba.
5) Jauh dari rahmat Allah SWT dan sesama manusia
6) Menghancurkan persatuan dan kesatuan
7) Menyakiti orang lain atau dapat mencelakakan orang lain
Terkena hinaan dan kegelisahan apalagi ia menyadari bahwa orang lain telah memahami hasutannya, maka ia akan dipandang rendah dan pasti dijauhi.
9) Kerisauan dan kegelisahan akibat kebencian tak terputus-putus
10) Akan selalu menderita di atas kesenangan orang lain. Ia tidak pernah merasa bahagia selama ada orang lain yang melebihinya
11) Dapat memutuskan hubungan silaturrahim dan persaudaraan
12) Berpotensi akan menjadi provokator yang dapat menimbulkan bencana atau kerugian, baik untuk dirinya ataupun orang lain
13) Menjerumuskan pelakunya masuk neraka.
Cara menghindari sifat hasud :
a) Selalu meningkatkan iman kepada Allah SWT
b) Berupaya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT
c) Mensyukuri nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadanya
d) Meningkatkan sifat Qana’ah (menerima dengan ridlo setiap anugerah Allah SWT)
e) Menyadari kedudukan harta dan jabatan dalam kehidupan manusia di dunia.
Kebiasaan-kebiasaan yang harus dilatih agar terhindar dari sifat hasud
a. Membiasakan diri menghormati pendapat orang lain agar terhibdar dari konflik
b. Membiasakan diri melakukan perbuatan baik, karena Allah bersama orang yang berbuat baik (Q.S. 16 :128)
c. Membiasakan diri senang dan bersyukur serta memberikan selamat atas keberhasilan/kebahagiaan orang lain
d. Membiasakan diri memelihara hubungan baik/silaturrahim
e. Membiasakan diri mempelajari, memahami dan memperaktikkan ayat-ayat Allah
f. Kemitmen untuk selalu meningkatkan ke-Islaman terutama salat lima waktu
g. Membiasakan diri mensyukuri nikmat/pemberian Allah sekecil apapun
2. Riya’
Menurut bahasa artinya pamer, memperlihatkan, memamerkan, atau ingin memperlihatkan yang bukan sebenarnya, sedang menurut istilah yaitu memperlihatkan suatu ibadah dan amal shalih kepada orang lain, bukan karena Allah tetapi karena sesuatu selain Allah, dengan harapan agar mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain. Sedang memperdengarkan ucapan tentang ibadah dan amal salehnya kepada orang lain disebut sum’ah (ingin didengar).
Riya’ dan sum’ah merupakan perbuatan tercela dan merupakan syirik kecil yang hukumnya haram. Riya’ sebagai salah satu sifat orang munafik yang seharusnya dijauhi oleh orang mukmin. Simak QS. An Nisa’ [4] 142!


Artinya : “Sesungguhnya orang-rang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ ( dengan shalat itu ) dihadapan manusia, dan tidaklah mereka dzkiri kepada Allah kecuali sedikit sekali.”
Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita, ”Di hari kiamat nanti ada orang yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke neraka. Lalu orang itu melakukan protes, ‘Wahai Tuhanku, aku ini telah mati syahid dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa aku dimasukkan ke neraka?’ Allah menjawab, ‘Kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain, agar dirimu dikatakan sebagai pemberani.
Dan, apabila pujian itu telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari perjuanganmu’.” Orang yang berjuang atau beribadah demi sesuatu yang bukan ikhlas karena Allah SWT, dalam agama disebut riya. Sepintas, sifat riya merupakan perkara yang sepele, namun akibatnya sangat fatal. Sifat riya dapat memberangus seluruh amal kebaikan, bagaikan air hujan yang menimpa debu di atas bebatuan.
Allah SWT berfirman QS. Al-Furqan [25] : 23


Artinya : ”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.”
Abu Hurairah RA juga pernah mendengar Rasulullah bersabda, ”Banyak orang yang berpuasa, namun tidak memperoleh sesuatu dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga, dan banyak pula orang yang melakukan shalat malam yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali tidak tidur semalaman.”
Begitu dahsyatnya penyakit riya ini, hingga ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, ”Apakah keselamatan itu?” Jawab Rasulullah, ”Apabila kamu tidak menipu Allah.” Orang tersebut bertanya lagi, ”Bagaimana menipu Allah itu?” Rasulullah menjawab, ”Apabila kamu melakukan suatu amal yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepadamu, maka kamu menghendaki amal itu untuk selain Allah.”
Meskipun riya sangat berbahaya, tidak sedikit di antara kita yang teperdaya oleh penyakit hati ini. Kini tidak mudah untuk menemukan orang yang benar-benar ikhlas beribadah kepada Allah tanpa adanya pamrih dari manusia atau tujuan lainnya, baik dalam masalah ibadah, muamalah, ataupun perjuangan. Meskipun kadarnya berbeda-beda antara satu dan lainnya, tujuannya tetap sama: ingin menunjukkan amaliyahnya, ibadah, dan segala aktivitasnya di hadapan manusia.
Secara tegas Rasulullah pernah bersabda, ”Takutlah kamu kepada syirik kecil.” Para shahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan syirik kecil?” Rasulullah berkata, ”Yaitu sifat riya. Kelak di hari pembalasan, Allah mengatakan kepada mereka yang memiliki sifat riya, ‘pergilah kalian kepada mereka, di mana kalian pernah memperlihatkan amal kalian kepada mereka semasa di dunia. Lihatlah apakah kalian memperoleh imbalan pahala dari mereka’
Amal perbuatan yang diridlai Allah
a. Niat karena Allah
b. Ikhlas
c. Sesuai dengan kemampuan
d. Tidak pilih kasih
e. Rahmat bagi seluruh alam
Amal perbuatan ria
a. Niat bukan karena Allah
b. Tidak ikhlas
c. Mengada-ada
d. Pilih kasih
e. Ingin dipuji
f. Mengharap imbalan
Dilihat dari bentuknya, ria dapat digolongkan 2 macam, yaitu :
a. Ria dalam niat
Ria yang berkaitan dengan hati, maksud ria dalam niat, yaitu sejak awal perbuatan bahkan yang dilakukannya tidak didasari ikhlas sebelumnya sudah didasari ria. Yang mengetahui hanya Allah SWT dan dirinya saja. Apabila seseorang ingin melakukan amal perbuatan baik atau tidak tergantung pada niat. Rasulullah s.aw. bersabda :
ﺳَﻤِﻌْﺖُﻋُﻤَﺮَﭐﺑْﻦَﭐﻟْﺨَﻄﱠﺎﺏﻗَﺎﻝَﻋَﻠَﻰﭐﻟْﻤِﻨْﺒَﺮﺳَﻤِﻌْﺖُﺭَﺳُﻮْﻝَﺹﻉﻳَﻘُﻮْﻝُِِﺇِﻧﱠﻤَﺎﺍْﻻَﻋْﻤَﺎﻝُﺑِﺎﻟﻨﱢﻴﱠﺎﺕِﻭَﺇِﻧﱠﻤَﺎﻟِﻜُﻞﱢﺍﻣْﺮِﺉٍﻣَﺎﻧَﻮَﻯ
( متفق عليه )
Artinya : “aku mendengar Umar bin al Khaththab berkata di atas mimbar, ‘aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan …” (H.R. Bukhari Muslim)
b. Ria dalam perbuatan
Yaitu memamerkan atau menunjukkan perbuatan di depan orang banyak, agar perbuatan tersebut dipuji, diperhatikan, dan disanjung orang lain.
Di antara contoh riya dalam perbuatan, bila seorang pelajar terlihat belajar dengan sungguh-sungguh hanya karena ingin mendapat nilai yang bagus. Dan dia melakukan hal itu kepada orang tuanya hanya karena ingin mendapatkan apa yang dia minta dari orang tuanya cepat-cepat terkabul.
Beberapa penjelasan Allah SWT dalam Al Qur’an sehubungan dengan riya’ dalam perbuatan antara lain :
a) Melakukan ibadah shalat tidak untuk mencapai keridlaan Allah SWT, tetapi mengaharapkan pujian, popularitas di masyarakat. (Q.S. Al Ma’un (107) : 4-6), dan Q.S. An Nisa (4) : 142.

Artinya : “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya”. (Q.S. Al Ma’un: 4-6)
b) Bersedekah didasari riya laksana riya’ batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih. (Q.S. Al Baqarah (2) : 264)
c) Allah melarang pergi berperang didasari riya’ dan menghalangi (orang) lain menempuh jalan Allah (sabilillah). (Q.S. Al Anfaal (8) : 47)
Beberapa ciri orang yang mempunyai sifat ria dalam perbuatan
a. Tidak akan berbuat baik jika tidak dilihat orang lain atau tidak ada imbalan baginya
b. Melakukan amal saleh tanpa dasar, hanya ikut-ikutan (Q.S. 17 : 36)
c. Tampak rajin penuh semangat jika amal perbuatannya dilihat atau dipuji-puji orang.
d. Ucapannya selalu menunjukkan bahwa dia yang paling hebat, paling tinggi dan paling mampu.
Bahaya-bahaya yang ditimbulkan dari sikap riya
a. Bahaya riya yang merugikan diri sendiri
1) Selalu tidak ada puasnya, sekalipun hidupnya sudah berkecukupan sehingga berpotensi untuk korupsi dan mengambil hak orang lain
2) Selalu ingin dipuji dan dihormati
3) Ketidakpuasan, sakit hati, dan penyesalan ketika orang lain tidak menghargainya.
4) Sombong dan membanggakan diri
5) Tidak dapat bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah maupun berinteraksi dengan sesama manusia.
6) Menyesal jika telah melakukan perbuatan baik hanya karena tidak ada orang lain yang melihatnya atau tidak ada imbalannya
7) Jiwanya akan terganggu karena kegelisahan/keluh kesah yang tiada henti
Perbuatan ria termasuk syirik kecil
وَعَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم
( إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ اَلشِّرْكُ اَلْأَصْغَرُ اَلرِّيَاءُ ) أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ حَسَنٍ
Artinya : Dari Mahmud Ibnu Labid r.a. bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpamu ialah syirik kecil: yaitu riya." Riwayat Ahmad dengan sanad hasan.
9) Allah tidak akan menerima dan memberi pahala atas perbuatan ria (terhapusnya pahala yang sudah diperbuat)
10) Di akhirat akan dicampakkan ke dalam api neraka.
b. Bahaya riya yang merugikan orang lain
1) Berpotensi saling bermusuhan, karena ia mengungkit apa yang yang diberikannya kepada orang lain.
2) Memamerkan amalnya kepada orang lain, sehingga orang lain menjadi benci dan tidak senang terhadapnya
3) Sikap dan perilakunya yang ria akan berpotensi menimbulkan pertikaian dan akhirnya menimbulkan pengrusakan
Tanda-tanda riya’
Tanda-tanda penyakit hati ini pernah dinyatakan oleh Ali bin Abi Thalib. Kata beliau, ”Orang yang riya itu memiliki tiga ciri, yaitu malas beramal ketika sendirian dan giat beramal ketika berada di tengah-tengah orang ramai, menambah amaliyahnya ketika dirinya dipuji, dan mengurangi amaliyahnya ketika dirinya dicela.”
Kebiasaan yang dapat menghindari perbuatan riya
a. Memfokuskan niat ibadah (ikhlas) hanya semata-mata karena Allah SWT
b. Membiasakan diri membaca basmallah sebelum memulai pekerjaan
c. Membiasakan menjaga lisan saat bekerja
d. Membiasakan diri menolong atau membantu pekerjaan orang lain tanpa harus disuruh dan meminta imbalan
e. Membiasakan bersedekah atau mengeluarkan infaknya setiap mendapat rezeki atau kesenangan
f. Tidak mudah tergiur atau terpengaruh dengan kemewahan orang lain
g. Tidak membuat kecemburuan kepada orang lain
h. Saling menasehati untuk kebaikan dan kesabaran dalam beribadah
i. Tidak memamerkan sesuatu karena pada dasarnya semua yang dimiliki adalah dari Allah dan akan kembali kepada-Nya
j. Membiasakan diri untuk bersyukur kepada Allah SWT
Allah SWT berfirman :

Artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.S. Ibrahim (14) : 7)
3. Aniaya (adh-Dhulm)
Kata “adh-dhulm” berasal dari fi’l (kata kerja) “dhalama – yadhlimu” artinya : ”rugi, gelap, aniaya” atau yang berarti “Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Dalam hal ini sepadan dengan kata “al-Jawr”. Dalam bahasa Indonesia, zalim biasa disebut dengan istilah “aniaya”, artinya melampaui batas, keterlaluan, atau tindakan/perbuatan yang melampaui batas yang dapat merugikan dirinya dan orang lain. Menganiaya berarti menyiksa, menyakitidan berbagai bentuk kesewenangan lainnya seperti menindas, mengambil hak orang lain dengan paksa dan lain-lain.
Demikian juga definisi yang dinukil oleh Syaikh Ibnu Rajab dari kebanyakan para ulama. Dalam hal ini, ia adalah lawan dari kata al-‘Adl (keadilan).
Dengan demikian yang dimaksud dengan aniaya (dhulm) adalah meletakkan, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya atau tidak sesuai dengan ketentuan Allah. Siapakah orang yang dhalim itu? Q.S Al Baqarah [2]: 229 menjawab :


Artinya : “…Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim.”
Dari Ibnu ‘Umar -radhiallaahu ‘anhuma- dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat”. (Muttafaqun ‘alaih)
Dari Jâbir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “berhati-hatilah terhadap kezhaliman, sebab kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat. Dan jauhilah kebakhilan/kekikiran karena kekikiran itu telah mencelakakan umat sebelum kamu”. (H.R.Muslim)
Hadits diatas dan semisalnya merupakan dalil atas keharaman perbuatan zhalim dan mencakup semua bentuk kezhaliman, yang paling besarnya adalah syirik kepada Allah Ta’âla sebagaimana di dalam firman-Nya: “Sesungguhnya syirik itu merupakan kedhaliman yang besar”.
Di dalam hadits Qudsiy, Allah Ta’âla berfirman: “Wahai hamba-hambaku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman terhadap diriku dan menjadikannya diharamkan antara kalian”.
Ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar-atsar tentang keharaman perbuatan dhalim dan penjelasan tentang keburukannya banyak sekali. Oleh karena itu, hadits diatas memperingatkan manusia dari perbuatan zhalim, memerintahkan mereka agar menghindari dan menjauhinya karena akibatnya amat berbahaya, yaitu ia akan menjadi kegelapan yang berlipat di hari Kiamat kelak.
Ketika itu, kaum Mukminin berjalan dengan dipancari oleh sinar keimanan sembari berkata: “Wahai Rabb kami! Sempurnakanlah cahaya bagi kami”. Sedangkan orang-orang yang berbuat zhalim terhadap Rabb mereka dengan perbuatan syirik, terhadap diri mereka dengan perbuatan-perbuatan maksiat atau terhadap selain mereka dengan bertindak sewenang-wenang terhadap darah, harta atau kehormatan mereka; maka mereka itu akan berjalan di tengah kegelapan yang teramat sangat sehingga tidak dapat melihat arah jalan sama sekali.
Klasifikasi Kezhaliman
Syaikh Ibn Rajab berkata: “Kezhaliman terbagi kepada dua jenis: Pertama, kezhaliman seorang hamba terhadap diri sendiri; Bentuk paling besar dan berbahaya dari jenis ini adalah syirik sebab orang yang berbuat kesyirikan menjadikan makhluk sederajat dengan Khaliq. Dengan demikian, dia telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Jenis berikutnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat dengan berbagai macamnya; besar maupun kecil.
Kedua, kezhaliman yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap orang lain, baik terkait dengan jiwa, harta atau kehormatan.
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah bersabda ketika berkhuthbah di haji Wada’ : “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, di bulan haram kalian ini dan di negeri (tanah) haram kalian ini”.
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang pernah terzhalimi oleh saudaranya, maka hendaklah memintakan penghalalan (ma’af) atasnya sebelum kebaikan-kebaikannya (kelak) akan diambil (dikurangi); Bila dia tidak memiliki kebaikan, maka kejelekan-kejelekan saudaranya tersebut akan diambil lantas dilimpahkan (diberikan) kepadanya”.
Ciri-ciri orang zalim berdasarkan Al Qur’an
Al Qur’an memberikan informasi banyak sekali tentang identitas atau cirri orang zalim yang sikap perilakunya atau cara memimpinnya dinisbatkan kepada firman di antaranya sebagai berikut :
a. Senantiasa rakus terhadap kekuasaan.
قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ
Artinya : Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. (Q.S. An Naml : 34)
b. Sikap zalim dapat juga diketahui dari sifat-sifat sombong, congkak, arogan, sewenang-wenang, sok kuasa, mentang-mentang dan mengklaim bahwa (seolah-olah) semua kesuksesan, dialah penggagasnya.
c. Kaki tangannya (anak buahnya) sebagai perpanjangan kekuasaannya menindas dan menggusur si lemah.
d. Merencanakan pembunuhan/menghilangkan nyawa kepada golongan tertentu agar keinginan (nafsu) memimpin lebih lama lagi terus berlangsung.
e. Akan lebih berbuat sadis, bila intimidasi yang pertama tidak mampu menimbulkan rasa gentar terhadap pihak lawannya.
Macam-macam sifat zalim/aniaya
Pada dasarnya secara umum zalim atau perbuatan aniaya dapat diklasifikasi 4 macam :
a. Zalim kepada Allah, dengan cara tidak mau melaksanakan perintah allah dan melaksanakan laranganNya. Contoh : meninggalkan ibadah shalat, puasa, zakat dan ibadah lainnya, bahkan berbuat syirik, sihir dan perbuatan terlarang lainnya.
b. Zalim kepada diri sendiri, contohnya : membiarkan diri sendiri tetap bodoh, miskin, malas, minum-minuman keras, bunuh diri dan lain-lain.
c. Zalim kepada orang lain (sesama manusia), contohnya : mengumpat, mengado domba, memfitnah, mencuri, merampok, penyiksaan, pembunuhan, dan lain-lain.
d. Zalim kepada makhluk lain atau alam sekitarnya, contohnya : menebang pohon tanpa aturan, membuang sampah sembarangan, menyembelih binatang dengan senjata tumpul, dan lain-lain.
Penyebab terjadinya
Ibnu al-Jauziy menyatakan: “kedhaliman mengandung dua kemaksiatan: mengambil milik orang lain tanpa hak, dan menentang Rabb dengan melanggar ajaran-Nya… Ia juga terjadi akibat kegelapan hati seseorang sebab bila hatinya dipenuhi oleh cahaya hidayah tentu akan mudah mengambil i’tibar (pelajaran)”.
Penyebab kedhaliman juga dapat dikembalikan kepada definisinya sendiri, yaitu tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan hal ini terjadi akibat kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama sehingga tidak mengetahui bahwa :
§ Hal itu amat dilarang bahkan diharamkan
§ Ketidakadilan akan menyebabkan adanya pihak yang terzhalimi
§ Orang yang memiliki sifat sombong dan angkuh akan menyepelekan dan merendahkan orang lain serta tidak peduli dengan hak atau perasaannya
§ Orang yang memiliki sifat serakah selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya sehingga membuatnya lupa diri dan mengambil sesuatu yang bukan haknya
§ Orang yang memiliki sifat iri dan dengki selalu bercita-cita agar kenikmatan yang dirasakan oleh orang lain segera berakhir atau mencari celah-celah bagaimana menjatuhkan harga diri orang yang didengkinya tersebut dengan cara apapun
Kebiasaan perbuatan pelajar yang berpotensi menjadi zalim
a. Kebiasaan membolos sekolah
b. Kebiasaan malas mencatat dan belajar. Sering tidur di kelas dan sering mengerjakan pekerjaan (PR) di sekolah.
c. Kebiasaan usil / jahil yang berpotensi menimbulkan permusuhan
d. Berkelahi antar pelajar (tawuran)
e. Kebiasaan merokok/ mabuk
f. Kebiasaan telat masuk sekolah dengan sengaja karena malas
g. Kebiasaan mengobrol/tidak memperhatikan saat guru menerangkan pelajaran
h. Kebiasaan mencuri, atau menyembunyikan harta milik teman-teman sekelasnya.
i. Memprovokasi teman-temannya dalam pelanggaran sekolah
Bahaya sifat zalim
o Akan merugikan kehidupan diri sendiri baik di dunia maupun akhirat
o Akan memperoleh adzab /laknat dari Allah (Q.S. 5 : 78-80)
o Akan memperoleh siksaan allah di akhirat (Q.S. 5 : 33)
o Amal perbuatannnya akan menjadi sia-sia di sisi Allah (Q.S. 18 : 103 – 105)
Cara-cara menghindari dari sikap aniaya/zalim
• Selalu waspada dan hati-hati dalam setiap menghadapi masalah
• Jangan membuka aib atau cacat orang lain
• Menumbuhkan rasa persaudaraan, kasih sayang, dan persaudaraan kepada antarsesama
• Menyadari bahwa setiap perbuatan mempunyai sebab akibat sesuai dengan sunnatullah
• Menyadari do’a orang yang teraniaya itu makbul
• Mengamalkan ajaran agama dengan memperbanyak berbuat kebaikan sehingga tak ada waktu untuk berbuat aniaya
• Membiasakan diri bersyukur kepada Allah SWT
• Berhati-hati dalam bertindak, berbicara dan dalam menerima setiap informasi yang ada
• Meluruskan / memahami ketauhidan
• Membiasakan menjaga amanah, yaitu memberikan hak orang lain
• Membiasakan bersikap adil dalam memutuskan suatu perkara
Hukuman Allah terhadap pemimpin yang zalim
• Akan dipertanggungjawabkan segenap perbuatannya. (Q.S. 36 ; 65, 45 ; 15)
• Akan mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang telah dikerjakannya. (Q.S. 10 ; 27)
• Akan mendapatkan siksaan di neraka selama-lamanya. (Q.S. 16 ; 88, 98 ; 6)
• Akan mendapatkan siksaan yang besar, dibunuh dan disalib (Q.S. 5 ; 33)
4. Diskriminasi
Diskriminasi adalah istilah populer yang seringkali kita dengar seiring dengan gencarnya istilah demokrasi disebut. Diskriminasi bermakna perbedaan warna kulit; perbedaan perlakuan terhadap sesama warga negara karena perbedaan warna kulit. Awal munculnya istilah ini memang dari adanya pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara atas dasar warna kulit. Ada kelompok warga berwarna kulit hitam dan putih.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia karangan Purwodarminto, diskriminasi artinya adalah perbedaan perlakuan terhadap sesama warga Negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya)
Istilah diskriminasi kemudian meluas maknanya kepada segala bentuk pembedaan atas warga negara atas dasar suku bangsa dan ras antar negara (SARA).
Islam sangat mengecam perbuatan diskriminatif. Islam tidak memandang kemuliaan seseorang atas dasar penampakan lahiriyah dan segala unsur SARA. Memang kemajemukan umat adalah hal yang sangat wajar dan semestinya. Kemajemukan bukan untuk diperselisihkan atau dipertentangkan, karena memang kemajemukan ini adalah takdir Allah SWT.
Kemajemukan seyogyanya dijadikan media untuk saling mengenal, memahami dan mempelajari agar tampak mana siapa yang paling bertaqwa di sisi Allah SWT. Agar kita mampu menghindari sikap deskriminatif tersebut, sebaiknya kita mengambil hikmah dari firman Allah SWT dalam QS. Al Hujurat [49] : 10-13 ;




Artinya :
10. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Berdasarkan ayat-ayat di atas, kita bisa mengambil pelajaran untuk menghindari sikap diskriminatif sebagai berikut:
4. Sesama orang yang beriman dan beragama Islam adalah saudara yang saling menyayangi dan menghormati.
5. Yang membedakan mereka di sisi Allah adalah kualitas ketaqwaan mereka.
6. Oleh karena itu kita dilarang untuk:
§ Saling merendahkan
§ Saling mencela
§ Saling memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan
§ Saling berperasangka jelek (saling curiga)
§ Saling mencari-cari kejelekan orang lain
§ Saling menggunjingkan
7. Keragaman ciptaan, bangsa dan suku adalah sesuatu yang wajar dan niscaya.
8. Allah tidak melihat kemuliaan seseorang dari penampilan luar.
9. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling taqwa.
10. Allah paling tahu siapa yang paling bertaqwa dan siapa yang hanya berpura-pura bertaqwa.
Dalam ajaran Islam keadilan ditegakkan tanpa memandang bulu/diskriminasi baik rakyat jelata ataupun raja harus tunduk kepada hukum dan ajaran Allah SWT, jika ia melanggar harus menerima konsekuensinya. Khalifah Umar bin al Khaththab r.a. pernah berkata :
ﺇِﻥﱠﭐﻹِﺳْﻼَﻡَﺟَﻤَﻊَﺑَﻴْﻨﹷﻜُﻤَﺎﻭَﺳَﻮﱠﻯﺑَﻴْﻦَﭐﻟْﻤﹷﻠِﻚِﻭَﭐﻟﺴﹹﻮْﻗَﺔِﻓِﻰﭐﻟْﺤﹷﺪﱢ
Artinya : “Sesungguhnya Islam itu menghimpun di antara kamu satu sama lain dan memandang sama antara raja dan rakyat dari segi hukum (sama-sama mempunyai hak dan kewajiban yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah)”. (Umar bin Khaththab).
B. TUGAS DAN PELATIHAN
Jawablah pertanyaan di bawah ini !
1. Jelaskan perbedaan antara hasud dengan iri hati !
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
1. Jelaskan mengapa sifat hasud harus dijauhi !
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
1. Sebutkan sifat iri yang diperbolehkan menurut hadits Rasulullah SAW :
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
1. Sebutkan bahaya hasud !
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
1. Bagaimana kiat menghindari hasud ?
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
1. Jelaskan ciri-ciri orang yang tekena sifat riya’ !
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
1. Kemukakan contoh-contoh riya’ dalam niat, riya’ dalam perbuatan, dan riya’ dalam urusan duniawi !
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
1. Sebutkan bahaya riya’ !
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
1. Sebutkan alasan mengapa perbuatan aniaya harus dijauhi !
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
1. Bagaimana langkah-langkah menghindari sifat aniaya ?
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………

Gresik, 07 Mei 2011
Mengetahui, Guru mata pelajaran
Kepala __________________


Musa firdaus M.pd Bryan Burhan Muhammad
__________________ __________________
NIP. __________________ NIP. __________________

Rabu, 11 Mei 2011

Hukum Sholat Berjamah

“Sholat berjamaah itu lebih baik dari mendirikan sholat bersendirian (munfarid)sebanyak dua puluh lima ganda “.(hr.bukhari,muslim,tirmiddzi,nasa’i,abu daut,ibnu majah,ahmad,malik,dan ad-darimi).
“shalat berjamah itu lebih baik dari mendirikan shalat secara sendirian (munfarid)sebanyak dua puluh lima derajat”.(hr.bukhari,muslim,tirmidzi,nasa’i,ibnu majah,ahmad,malik,dan ad-darimi).
Al-allamah ‘alaudin as-samarqondi beliau adalah termasuk ulama senior dalam bidang ilmu fiqih madzab hanafi – berkata “sesungguhnya sholat berjamaah itu hukumnya wajib,meskipun ada sholat kami yang menyebutkan sunnah muakkad,namun keduanya sama.adapun hukum asalnya adalah riwayat dari rasulallah saw bahwa beliau selalu mengerjakan sholat berjamaah secara teratur, demikian pula, umat islam sejak zaman rasulallah saw sampai hari kita sekarang ini, ditambah dengan pengingkaran terhadap orang yang meninggalkannya. Ini adalah batasan hukum, sunnah muakkad.” (lihat tuhfatul fuqaha’, 1/358).
Sedangkan madzab hanafiyah dan malikiyah menyatakan, “shalat bejamaah adalah hukumnya sunnah muakkad. Akan tetapi mereka mengaggap berdosa orang yang meninggalkan sunnah muakkad, dan mensahkan shalat tanpa dilakukan dengan berjamaah. Adapun letak perbedaan antara merekan dengan para ulama yang berpendapat hukumnya wajib adalah hanya perbedaan lafadz saja. Demikian pula, ada sebagian mereka yang menyatakan secara tegas bahwa hukumnya wajib”. (baca kitabush shalah karya ibnu qayyim, hal 111).
Sementara itu, imam nawawi ra mengatakan bahwa, “shalat berjamaah merupakan suatu yang diperintahakan berdasarkan hadits-hadits shahih yang mashur dan ijma’ kaum muslimin. Menurut para sahabat kami,ada 3 macam pendapat dalam menghukumi shalat berjamaah. Yaitu pertama, fardhu kifayah; kedua, sunnah; dan ketiga, fardhu ain, tetapi merupakan pendapat abu bakar bin khuzaimah dan ibnu mundzir. Ar-rofi’i berkata, ‘”dan ada yang mengatakan itu adalah pernyataan imam syafi’i”. (baca al-majmu’,4/189).

Upaya Peningkatan Vocabulary Siswa dengan Media Wordwall

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa Inggris adalah alat untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Departemen Pendidikan Nasional, yang sedang mempersiapkan standar kompetensi dalam Kurikulum 2004, menetapkan bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa Indonesia adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya dengan menggunakan bahasa Inggris. Dengan demikian, bahasa Inggris berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dalam rangka mengakses informasi selain sebagai alat untuk membina hubungan interpersonal, bertukar informasi serta menikmati estetika bahasa dalam budaya Inggris. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris bertujuan sebagai berikut:
1. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, baik dalam bentuk lisan atau tulis, yang meliputi kemampuan mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing).
2. Menumbuhkan kesadaran tentang hakikat bahasa dan pentingnya bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar.
3. Mengembangkan pemahaman tentang saling keterkaitan antarbahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya agar siswa memiliki wawasan lintas budaya dan dapat melibatkan diri dalam keragaman budaya.
Salah satu komponen pembelajaran bahasa adalah pemahaman kosakata dari bahasa Inggris itu sendiri, di samping komponen-komponen lainnya.
Kosakata (Inggris: vocabulary) adalah himpunan kata yang diketahui maknanya dan dapat digunakan oleh seseorang dalam suatu bahasa,. Kosakata seseorang didefinisikan sebagai himpunan semua kata-kata yang dimengerti oleh orang tersebut atau semua kata-kata yang kemungkinan akan digunakan oleh orang tersebut untuk menyusun kalimat baru. Kekayaan kosakata seseorang secara umum dianggap merupakan gambaran dari intelegensia atau tingkat pendidikannya.
Pemahaman kosakata secara umum dianggap sebagai bagian penting dari proses pembelajaran suatu bahasa ataupun pengembangan kemampuan seseorang dalam suatu bahasa yang sudah dikuasai. Murid sekolah sering diajarkan kata-kata baru sebagai bagian dari mata pelajaran tertentu dan banyak pula orang dewasa yang menganggap pembentukan kosakata sebagai suatu kegiatan yang menarik dan edukatif.
Penguasaan kosa kata merupakan hal yang paling mendasar yang harus dikuasai seseorang dalam pembelajaran bahasa inggris yang merupakan bahasa asing bagi seluruh siswa dan masyarakat Indonesia. Bagaimana seseorang dapat mengungkapkan suatu bahasa apabila ia tidak memahami kosakata dari bahasa tersebut. Apalagi kalau yang dipelajari itu adalah bahasa asing, sehingga penguasaan kosakata bahasa tersebut merupakan sesuatu yang mutlak dimiliki oleh pembelajar bahasa.. Apabila seorang siswa memiliki perbendaharaan kata bahasa inggris yang memadai maka otomatis akan lebih menunjang pada pencapaian empat kompetensi bahasa inggris tadi. Demikian juga sebaliknya tanpa memiliki kosa kata yang memadai seorang siswa akan mengalami kesulitan dalam mencapai kompetensi berbahasa di atas
B. PERMASALAHAN
Kurikulum yang digunakan dewasa ini berorientasi pada kompetensi, artinya siswa dituntut untuk memiliki kompetensi tertentu atau kecakapan sebagai hasil proses pembelajaran di sekolah. Pendidikan berbasis kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi yang sering disebut dengan standar kompetensi adalah kemampuan yang secara umum harus dikuasai lulusan. Kompetensi menurut Hall dan Jones (1976: 29) adalah “pernyataan yang menggambarkan penampilan suatu kemampuan tertentu secara bulat yang merupakan perpaduan antara pengetahuan dan kemampuan yang dapat diamati dan diukur”. Kompetensi (kemampuan) lulusan merupakan modal utama untuk bersaing di tingkat global, karena persaingan yang terjadi adalah pada kemampuan sumber daya manusia. Oleh karena. itu, penerapan pendidikan berbasis kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat global.
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran bahasa inggris, penulis sering mendapati para siswa di MTS Mambaus Sholihin, sekolah tempat penulis mengajar mengalami kesulitan dalam mencapai suatu kompetensi dasar. Hal ini dikarenakan penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa kurang memadai, sehingga sangat mengganggu pencapaian kompetensi seperti yang tertera dalam kurikulum. Mereka sering kesulitan memahami arti sebuah kata karena pemahaman kosakata mereka relatif kurang memadai sehingga proses pencapaian suatu kompetensi dasar akan berjalan lebih lama.
Apabila para siswa mengalami kesulitan dalam memahami arti sebuah kata selama proses pembelajaran maka dengan terpaksa akhirnya penulis memberikan jalan pintas pada mereka dengan cara :
a. menyuruh siswa mencari arti kata tersebut dalam kamus
b. memberitahu secara langsung arti dari kata tersebut.
walaupun cara tersebut apabila terlalu sering digunakan berakibat kurang baik bagi para siswa karena :
1. hanya beberapa orang siswa yang memiliki kamus
2. siswa menjadi tergantung pada kamus bukan pada pemahaman konteks kata
3. siswa sering menunggu pada makna kata yang berasal dari guru
Melihat kendala-kendala di atas maka penulis mencoba mencari berbagai macam teknik dan strategi agar pemahaman kosakata bahasa inggris siswa-siswa MTS Mambaus Sholihin di kelas yang penulis ajar yaitu kelas VII E, F ,G meningkat dengan harapan para siswa tidak selalu bergantung pada kamus atau menunggu jawaban dari guru dalam memahami arti sebuah kata sehingga hal ini diharapkan akan memudahkan pencapaian suatu kompetensi berbahasa sekaligus meningkatkan pemahaman siswa akan kosakata bahasa inggris
C. TUJUAN
Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah :
1. Menyampaikan pengalaman penulis dalam mengaplikasikan salah satu teknik dan media yang efektif dalam pembelajaran kosakata bahasa inggris yang mudah diingat dan dihapal oleh siswa.
2. Bisa saling berbagi pengalaman dengan guru-guru yang lain tentang teknik-teknik pembelajaran kosakata sekaligus menemukan kekurangan-kekurangan pada pelaksanaan teknik dan media pembelajaran ini.
BAB. II
KEADAAN IDEAL DAN KEADAAN NYATA
A. Keadaan Ideal
Sesuai dengan tuntutan pencapaian tujuan pembelajaran bahasa Inggris, yaitu dapat berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan, maka para siswa dituntut untuk memiliki pemahaman kosakata yang memadai sehingga mereka akan dapat berkomunikasi dengan baik dalam berbagai konteks dan tema.
Aktivitas pembelajaran berbasis bahasa secara mendasar dan akan bergantung pada pemahaman siswa akan kosakata tersebut. Para siswa harus mempunyai akses pada makna kata yang digunakan oleh guru dan lingkungan sekitarnya. Keterbatasan pemahaman kosakata pada siswa akan mengakibatkan terhambatnya pencapain kompetensi berbahasa.. Bagaimanapun pembelajaran itu sendiri bergantung pada bahasa..
Becker (1997) menekankan tentang pentingnya pengembangan kosakata yaitu menghubungkan berapa jumlah kosakata yang dikuasai oleh para siswa dengan materi akademik pembelajaran bahasa. Dia Menyatakan bahwa kurangnya pemahaman kosakata adalah penyebab utama dari kegagalan akademik yang dialami siswa.
Sebuah riset menyatakan bahwa pemahaman suatu teks juga bergantung pada ukuran kosakata yang dimiliki oleh seseorang. Menurut Graves (1986) kosakata ideal yang harus dimiliki oleh pembelajar pemula adalah antara 2500 sampai 5.000 kata untuk menunjang pembelajaran bahasa. Namun hal ini kurang dimiliki oleh para pembelajar bahasa Inggris di negara kita, apalagi bahasa Inggris adalah sebagai bahasa asing sehingga penggunaan bahasa tersebut hanya pada beberapa hal dan tempat.
B. KEADAAN NYATA
Pada kenyataannya pemahaman vocabulary siswa kelas VII E, F, G di MTS Mambaus Sholihin jauh sekali dari keadaan ideal tadi atau masih di bawah pemahaman minimal yang harus dimiliki siswa. Kenyataan ini menyebabkan cukup sulitnya mencapai suatu kompetensi dasar seperti yang ada dalam kurikulum.
Ada beberapa factor yang mempengaruhi keadaan ini yaitu :
1. Metode dan teknik pembelajaran kosakata yang digunakan oleh guru kurang tepat atau tidak menarik perhatian siswa.
2. Tidak tersedianya media pembelajaran kosakata yang efektif dan menarik buat para siswa.
3. Sebagian siswa kurang memiliki minat yang besar untuk belajar bahasa inggris karena mereka anggap sukar.
Dengan keadaan ini penulis berusaha dengan kemampuan yang ada untuk mencoba beberapa cara agar pemahaman kosakata para siswa dapat meningkat sekaligus dapat menggunakan kosakata tersebut dalam berbagai makna dan tema.
Salah satu teknik dan media pembelajaran yang penulis gunakan adalah yang dinamakan dengan Wordwall.





BAB III
MASALAH DAN PEMECAHANNYA
A. Analisis Masalah
Ada dua pendekatan utama dalam pembelajaran vocabulary yang populer , yaitu
a. pendekatan daftar kata
b. pendekatan kontekstual
Pendekatan daftar kata yaitu memberikan daftar kata dan maknanya secara langsung pada para siswa. Daftar kata ini mungkin ada hubungannya dengan topik-topik yang sedang dipelajari oleh siswa atau mungkin juga tidak .
Menurut hemat penulis pendekatan seperti ini ada sisi kelebihannya dan juga kelemahannya. Kelebihannya yaitu :
Praktis
Mudah dikerjakan
Tidak menyita banyak waktu dalam menyampaikannya
Sedangkan kelemahannnya yaitu :
Hanya dianggap sebagai catatan biasa oleh siswa
Mudah terlupakan
Tidak berkesan buat siswa
Siswa terlalu sering membuka daftar kata tersebut dalam proses pembelajaran.
Pendekatan yang kedua adalah pendekatan kontekstual yaitu pembelajaran kosakata yang disandarkan pada berbagai aktivitas terkait untuk mencari makna dari suatu kata.
Kelemahan dari pendekatan ini adalah :
Memerlukan teknik-teknik tertentu dalam menyampaikannya
Memerlukan media yang cukup banyak
Menyita cukup banyak waktu dalam menyampaikannya
Kekuatan :
Dapat diterapkan dengan menggunakan berbagai variasi penyampaian
Siswa merasa terkesan dan senang selama proses pembelajaran
Mudah diingat siswa
Dari kedua pendekatan tadi menurut hemat penulis, pendekatan yang paling menyenangkan buat siswa adalah pendekatan kontekstual. Hal ini dikarenakan bahwa seluruh siswa dapat terlibat secara langsung melalui berbagai macam aktivitas untuk mencari dan menemukan makna-makna dari suatu kata dengan dibimbing oleh guru walaupun tentu saja tidak harus selalu menggunakan pendekatan ini setiap kali penulis masuk kelas. Penulis menggunakan pendekatan daftar kata apabila siswa bertanya tentang arti kosakata yang telah diucapkan penulis. Penulis telah mempraktekkan pembelajaran vocabulary menggunakan pendekatan kontekstual yaitu dengan menggunakan media Dinding kata atau Wordwalls.
B. Pemecahan Masalah
a. Pengertian
Agar pembelajaran vocabulary di kelas lebih bermakna dan menyenangkan buat para siswa maka penulis mencoba menggunakan pendekatan dan media pembelajaran vocabulary yang dianamakan dengan wordwall.
Wordwall adalah kumpulan kosakata yang terorganisir secara sistematis yang ditampilkan dengan hurup yang besar dan ditempelkan pada dinding suatu kelas. Wordwall adalah sebuah media pembelajaran yang harus digunakan bukan hanya ditampilkan atau dilihat. Media ini dapat didesain untuk meningkatkan kegiatan kelompok belajar dan juga dapat melibatkan siswa dalam pembuatannya serta aktivitas penggunaannya. Dengan menggunakan wordwall diharapkan siswa akan meningkat pemahaman kosakata bahasa inggrisnya tanpa harus selalu tergantung pada penggunaan kamus atau juga arti kata yang diberikan oleh guru.
Ada beberapa cara untuk membuat wordwall efisien, praktis dan mudah diingat. Wordwall adalah media interaktif dalam ruang kelas untuk mendukung pembelajaran listening, speaking, reading dan writing.
Adapun beberapa cara tersebut adalah :
a.
1. Buatlah agar mudah diingat dengan menggunakan kata-kata favorit pada tema tertentu.
2. Buatlah menjadi berguna yaitu dengan sering menggunakan kata-kata tersebut dalam berbagai kegiatan listening, speaking, reading atau writing
3. Buatlah mudah dilihat, dengan menuliskannya dengan hurup yang besar dan ditempelkan pada sebuah dinding di kelas.
b. Pembuatan
Pada pembuatan media ini penulis membuat kata-kata kunci dalam tema-tema tertentu sesuai dengan kurikulum dan menuliskannya dengan hurup yang besar di atas secarik karton dengan ukuran yang sedapat mungkin dapat dilihat dengan jelas oleh seluruh siswa dalam kelas. Kata-kata kunci ini dapat berupa Adjectives, nouns, verb, atau adverb yang disesuaikan dengan tema yang akan dipelajari. Penulis memberikan antara 5 sampai 10 kata dalam tiap minggu. Hal yang penulis tekankan adalah dari segi kualitas yaitu kata-kata tersebut akan selalu mudah diingat oleh siswa dan bukan dari banyaknya kosakata tapi mudah terlupa bagi siswa.
Untuk tahap selanjutnya maka penulis dapat berkolaborasi dengan siswa dalam pembuatan wordwall ini. Siswa disuruh membuat sebuah kosakata pada secarik karton yang berhubungan dengan tema pembelajaran tertentu. Setelah itu dikumpulkan dan diseleksi kata-kata mana yang paling sesuai dengan tema yang akan diajarkan. Semua hasil karya siswa ini penulis kumpulkan sebagai portofolio siswa dan diberi nilai..
c. Strategi penggunaan wordwall
Penggunaan media ini dimaksudkan untuk mencari makna kata-kata tertentu melalui proses pembelajaran yang interaktif dan komunikatif. Ada beberapa contoh yang penulis lakukan dalam mencari makna kata tersebut.
Contoh 1 :
Theme : Animal
Wordwall : bat, camel, giraffe, wild, wildlife reserve
Strategy : Guess the word
It is on the wall
It rhymes with cat
It is an animal
It likes to see for food at night
What animal is it ?
What is the equivalent meaning in bahasa Indonesia ?
Setelah itu siswa menebak apa yang dimaksud dan apa makna tersebut dalam bahasa Indonesia. Untuk strategi lebih lanjut guru dapat mengembangkannya menggunakan strategi yang lainnya.
Contoh 2 :
Theme : Natural Disaster
Wordwalls : Flood, landslides, destroy, Earthquake, shake
Strategy : Quick Definitions
Berikan suatu definisi pada sebuah kata
Siswa menuliskan dan memilih kata sesuai dengan definisi yang diberikan oleh guru
Ulangi kembali sambil memberikan semangat pada siswa
Cek jawaban siswa
Contoh 3 :
Theme : Parts of body
Wordwalls : Nose, shoulder, eyebrow, smell,
Strategy : Guess the word
Follow up : Simon Says games.
permainan ini diawali dengan kalimat “Simon says …….. touch your …….”
Jika guru tidak mengawali kalimat dengan “ simon says….” Maka siswa tidak boleh menyentuh apapun alias diam. Umpamanya guru hanya mengatakan “ touch your ear “ (tidak diawali dengan kalimat “ Simon Says …..” maka jika siswa ada yang melakukan sesuatu dia akan dikenai hukuman menyanyi kan lagu
Itulah contoh-contoh pembelajaran kosakata yang menggunakan wordwall yang dengan strategi ini pembelajaran menjadi menarik, menyenangkan dan tidak membosankan pada siswa. Untuk mengintegrasikan dengan materi pembelajaran bahasa lainnya seperti listening, speaking, reading , writing, maka guru dapat mengembangkan sendiri teknik dan strategi pembelajaran dan ini akan lebih memudahkan karena siswa sudah memahami kata-kata kunci dari tema pembelajaran yang kita berikan.
BAB. IV
PENUTUP
A. SIMPULAN
Dengan menggunakan media worldwall ini maka pembelajaran kosakata di kelas yang penulis ajar berlangsung dengan komunikatif dan menyenangkan sehingga pemahaman siswa akan vocabulary bahasa inggris semakin meningkat karena terus ada dalam memori mereka dan juga mudah dilihat. Untuk itu dalam menggunakan media pembelajaran ini
• Berikanlah siswa kira-kira 5 sampai dengan 10 kata setiap minggu
• Buatlah kata-kata tersebut dalam berbagai variasi bentuk sehingga akan lebih menarik bagi siswa.
• Gunakanlah kata-kata yang paling sesuai dari sebuah tema pembelajaran
• Lakukanlah berbagai variasi strategi penggunaan yang menyenangkan buat siswa.
• Lakukan evaluasi terhadap pemahaman kosakata siswa dalam berbagai macam tes.
• Jadikan wordwall hasil karya siswa sebagai portofolio siswa dan berikan penilaian dan penghargaan
B. Saran
Dengan telah dicobanya strategi pembelajaran kosakata yang cukup komunikatif ini maka penulis menyarankan pada rekan-rekan guru bahasa inggris untuk mencoba mencari dan menggunakan strategi pembelajaran lainnya yang dianggap dapat meningkatkan pemahaman kosakata siswa yang merupakan dasar dan tercapainya kompetensi berbahasa.

DAFTAR PUSTAKA
1. Allen, Janet. Words, Words, Words Portland: Stenhouse Publishers, 1999
2. Working with Words, http://www.wfu.edu/cunningh/fourblocks/block4.html
3. Hamid, Fuad Abdul. 1987. Prosedur Belajar-Mengajar Bahasa. Jakarta: Depdikbud,.
4. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Depdiknas, 2004

Rabu, 30 Maret 2011

Pendekatan Sistem Pembelajaran PAI

BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Banyak sekolah yang berjalan tanpa adanya sistem yang baik. Semua komponen tidak terkoordinasi dengan baik. Akibatnya banyak dari komponen-komponen itu itu tidak berjalan secara efektif dan efisien.
Padahal Pengajaran berkaitan dengan hal bagaimana guru mengajar serta bagaimana siswa belajar. Proses pembelajaran ini merupakan suatu kegiatan yang disadari dan direncanakan. Kegiatan yang disadari dan rencakana mencakup tiga hal; yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Pengajaran dilakukan dalam waktu yang berkala, baik untuk waktu jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang. Misalnya, latihan Pembina Pramuka selama satu minggu. Apakah suatu pengajaran berjangka waktu lama ataupun singkat, tetap membutuhkan suatu program kerja, yaitu program pengajaran yang secara singkat disebut program pengajaran. Program Pengajaran merupakan suatu program bagaimana mengajarkan apa-apa yang sudah dirumuskan dalam kurikulum. Dewasa ini konsep yang banyak mewarnai pengajaran di sekolah dasar dan sekolah menengah di Indonesia adalah konsep teknologi pendidikan. Khususnya pengajaran sebagai system. Oleh karena ini, pembahasan makalah ini, dimulai dari konsep tentang system, dan pengajaran sebagai suatu system.
Oleh karenanya, perlu adanya perencanaan yang baik, sehingga semua komponen, baik yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik.
b. Rumusan Masalah
Apakah pengertian Pendekatan Sistem ?
Bagaimana Aplikasi Pendekatan Sistem pembelajaran PAI?
c. Tujuan
Mahasiswa mengetahui pengerttian pendekatan Sistem Pembelajaran PAI
Mahasiswa mengetahui Aplikasi Pendekatan system pembelajaran PAI


BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Sistem
Secara Umum
Dalam cakupan pengertian sistem termuat adanya berbagai komponen (unsur), berbagai kegiatan (menunjuk fungsi dari setiap komponen), adanya saling hubungan yang ketergantungan antar komponen, adanya keterpaduan (kesatuan organis = integrasi) antar komponen, adanya keluasan sistem (ada kawasan di dalam sistem dan di luar sistem), dan gerak dinamis semua fungsi dari semua kompo¬nen tersebut mengarah (berorientasi = berkiblat) ke pencapaian tuju¬an system yang telah ditetapkan lebih dahulu.
Dari sini dapat diambil sebuah pengertian bahwasanya sistem secara umum diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dalam usahanya mencapai sebuah tujuan. Sehingga sistem tidak hanya mencakup aspek materi, melainkan juga masuk di dalamnya berupa prosedur, fasilitas, media dll
Secara Khusus
Menurut Hayanto, “pendekatan system adalah merupakan jumlah keseluruhan dari bagian-bagian yang saling bekerja sama untuk mencapai hasil yang diharapkan berdasarkan atas kebutuhan tertentu.”
Menurut Lembaga Administrasi Negara: “system pada hakikatnya adalah seperangkat komponen, elemen, yang satu sama lain saling berkaitan, pengaruh-mempengaruhi dan saling tergantung, sehingga keseluruhannya merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi atau suatu totalitas, serta “mempunyai peranan atau tujuan tertentu.”
System juga diartikan sebagai suatu kesatuan komponen yang sama, satu sama lain saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu.
Dari berbagai pengertian yang didefinisikan oleh beberapa pakar pendidikan, maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa sistem adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling berintegrasi, saling berfungsi secara kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Dari konsep ini, ada empat ciri utama suatu system. Pertama, suatu system memiliki tujuan tertentu. Kedua, ada komponen sistem ; ketiga, untuk menggerakkan fungsi, adanya fungsi yang menjamin dinamika dan kesatuan kerja sistem. Dan keempat, adanya interaksi antar berbagai Komponen. Berikut penjelasan dari berbagai poin diatas:
Adanya Tujuan
Setiap rakitan sistem pasti bertujuan, tujuan sistem telah diten-
tu¬kan lebih dahulu, dan itu menjadi tolok ukur pemilihan kompo¬nen serta kegiatan dalam proses kerja sistem. Komponen, fungsi komponen, dan tahap kerja yang ada dalam suatu sistem meng¬arah ke pencapaian tujuan sistem. Tujuan sistem adalah pusat orientasi dalam suatu sistem.
Adanya komponen sistem (selain tujuan)
Jika suatu sistem itu adalah sebuah mesin, maka setiap bagian (onderdil) adalah komponen dari mesin (sistemnya); demikian pula halnya dengan pengajaran di sekolah sebagai sistem, maka semua unsur yang tercakup di dalamnya (baik manusia maupun non manusia) dan kegiatan-kegiatan lain yang terj adi di dalamnya adalah merupakan komponen sistem. Jadi setiap sistem pasti memiliki komponen-komponen sistem.
Adanya fungsi yang menjamin dinamika (gerak) dan kesatuan kerja sistem
Tubuh kita merupakan suatu sistem, setiap organ (bagian) dalam tubuh tersebut mengemban fungsi tertentu, yang keseluruhan¬nya (semua fungsi komponen sistem) dikoordinasikan secara kompak, agar diri kita dan kehidupan kita sebagai manusia ber¬jalan secara sehat dan semestinya.
Adanya Interaksi antar Komponen
Antar komponen dalam suatu sistem terdapat saling hubungan, saling mempengaruhi, dan saling ketergantungan. Misalnya: keguruan seseorang barulah menjadi nyata jika ada siswa yang bersedia untuk dididiknya; siswa yang responsif, kri¬tis, dan koordinatif banyak membantu guru dalam mengembangkan kariernya.
Adanya transformasi dan sekaligus umpan balik. Fungsi dari setiap komponen merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan fungsi sistem. Dalam sistem pengajaran yang berinti pada interaksi personal, peran dari komponen-komponen (selain guru dan siswa) adalah untuk meningkatkan nilai inter¬aksi personal tersebut demi keberhasilan belajar siswa. Transfor¬masi yang terjadi dalam interaksi guru-siswa secara lebih teknis merupakan transaksi pesan-pesan (pemahaman -> penginte¬grasian -> pengembangan diri).
Keempat ciri di atas merupakan satu kesatuan yang kemudian dinamakan dengan sistem. Keempatnya merupakan bagian yang saling berintegrasi sebagai satu kesatuan (totalitas) yang satu sama lain tidak bisa berdiri sendiri, saling mengisi dan menguatkan dalam mencapai tujuan.
Pendekatan Sistem Pembelajaran PAI
Pendekatan sistem pembelajaran PAI adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling berintegrasi, saling berfungsi secara kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan generasi-genarasi yang beriman dan bertakwa.
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Menurut Tafsir (2002), bagi umat Islam, dan khususnya dalam pendidikan Islam, kompetensi iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia tersebut sudah lama disadari kepentingannya, dan sudah diimplementasikan dalam lembaga pendidikan Islam. Dalam pandangan Islam, kompetensi iman dan takwa (imtak) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), juga akhlak mulia diperlukan oleh manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.
Jadi, dalam pandangan Islam, peran kekhalifahan manusia dapat direalisasikan melalui tiga hal, yaitu:
a. landasan yang kuat berupa iman dan takwa
b. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
c. akhlak mulia
Dari beberapa pendapat diatas, maka Pendekatan sistem pembelajaran PAI adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling berintegrasi, saling berfungsi secara kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan generasi-genarasi yang berwawasan luas, beriman dan bertakwa serta memiliki akhlak yang mulia.
Aplikasi Pendekatan sistem Pembelajaran PAI
Gagne dan Atwi Suparman mengatakan bahwa sistem pengajaran adalah suatu set peristiwa yang mempengaruhi siswa sehingga terjadi proses belajar.
Oemar Hamalik, mengatakan; “sistem pengajaran merupakan suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan Prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Oemar Hamalik, terdapat tiga ciri khas yang ada dalam sistem pengajaran, yaitu:
Rencana, penataan intensional orang, material dan prosedur yang merupakan unsur sistem pengajaran sesuai dengan suatu rencana khusus, sehingga tidak mengambang.
Kesalingtergantungan (interdependent), unsur-unsur suatu sistem merupakan bagian yang koheren dalam keseluruhan, masing-masing bagian bersifat esensial, satu sama lain saling memeberikan sumbangan tertentu.
Tujuan
Tujuan, setiap sistem pengajaran memiliki tujuan tertentu. The goal is the purpose for which the system is design.
Perencanaan pengajaran adalah suatu pengambilan keputusan hasil berfikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya pencapaian tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada. Perencanaan pembelajaran mengarah pada proses penerjemahan kurikulum yang berlaku. Sedangkan desain pembelajaran menekankan pada merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa. Hal inilah yang membedakan keduanya. Perencanaan berorientasi pada kurikulum, sedangkan desain berorientasi pada proses pembelajaran.
Namun demikian, perencanaan dan desain, keduanya disusun berdasarkan pendakatan sistem. Karenanya di dalamnya terdapat berbagai komponen yang menyusun sistem tersebut, yaitu:
Siswa
Proses pembelajaran pada hakikatnya diarahkan untuk membelajarkan siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Sehingga dalam proses pengembangan desain dan perencanaan, siswa harus dijadikan pusat pertimbangan. Artinya, keputusan-keputusan yang diambil harus disesuaikan dengan kondisi siswa, baik kemampuan dasar, minat, bakat, motivasi belajar, gaya belajar dan sebagainya.
Tujuan
tujuan adalah komponen terpenting dalam pembelajaran setelah komponen siswa. Tujuan sebenarnya merupakan arah yang harus dijadikan rujukan dalam pembuatan desain dan perencanaan serta pembelajaran di kelas. Adapun tujuan khusus yang direncakan oleh guru adalah:
• Pengetahuan, informasi serta pemahaman sebagai bidang kognitif
• Sikap dan apresiasi sebagai tujuan dari bidang avektif
• Berbagai kemampuan sebagai bidang psikomotorik.
Adapun dalam Pembelajaran PAI adalah mewujudkan generasi-genarasi yang berwawasan luas, beriman dan bertakwa serta memiliki akhlak yang mulia.
Kondisi
Kondisi adalah berbagai pengalaman belajar yang diharapkan akan ada pada diri siswa, agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran seperti yang telah dirumuskan. Pengalaman ini harus dapat membuat siswa aktif belajar, baik secara fisik maupun non-fisik.
Merencakana belajar salah satunya adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai kecenderungan gaya belajarnya. Demikian juga desain pembelajaran, ia harus dapat membuat siswa belajar dengan penuh motivasi dan gairah.
Sumber belajar
Sumber belajar berkaitan dengan segala sesuatu yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar. Di dalamnya meliputi lingkungan fisik, seperti tempat belajar; alat yang digunakan, guru petugas perpustakaan, ahli media, dan sebagainnya.
Hasil Belajar
Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan. Dengan demikian tugas utama guru adalah merancang instrument yang dapat menghasilkan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam literature lain disebutkan; dari sudut pandang teknologi intruksional, komponen sistem pengajaran diuraikan dengan lebih luas lagi sebagai berikut:
 Spesifikasi isi pokok bahan
 Spesifikasi tujuan pengajaran
 pengumpulan dan penyaringan data siswa
 Penentuan cara pendekatan, metode, teknik mengajar
 Pengelompokkan siswa
 Penyediaan waktu
 Pengaturan ruang
 Pemilihan media
 Evaluasi
Unsur minimal yang harus dalam sistem pengajaran adalah suatu tujuan, siswa serta prosedur kerja untuk mencapai tujuan. Dalam konteks ini, guru tidak termasuk sebagai unsur sistem dan hanya merupakan salah satu sumber belajar. Dalam dalam keadaan lain fungsinya dapat digantikan dengan sumber balajar lain yang mempunyai fungsi yang sama, seperti; buku, film, slide show, teks yang telah deprogram, dan sebagainya.
Fungsi guru dalam sistem pengajaran PAI adalah sebagai desainer, sekaligus sebgai pelaksana pengajaran. Sebagai seorang perancang, guru berfungsi menyusun suatu sistem pengajaran. Sedangkan sebagai pelaksana sistem pengajaran, guru berfungsi dalam tranformasi ilmu yang dilakukanya di kelas. Dalam hal ini guru harus memiliki; kompetensi mengajar, sikap professional, penguasan materi pelajaran, prinsip-prinsip dan teknik pengajaran serta keterampilan-keterampilan dasar mengajar lainnya. Dan yang terpenting adalah seorang guru harus memiliki keteladanan yang bisa ditiru oleh murid-muridnya. Dalam hal ini guru harus menjadi sosok desain hasil pembelajaran yang diharapkan muncul pada diri masing-masing siswa.
Adapun fungsi yang ketiga, adalah guru sebagai evaluator. Kegiatan pengajaran yang telah dijalankan, kemudian diadakan evaluasi. Hasil evaluasi yang di dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan yang telah dicapai dengan menggunakan pedoman perencanaan. Dari sini, akan ditemukan titik-titik mana saja yang kemudian diperbaiki.
Beberapa komponen pendekatan sistem diatas bekerja secara kooperatif. Artinya kesemuanya itu saling berkerja sama untuk mencapai sebuah tujuan. Sehingga satu sama lain saling menguatkan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnnya.
Manfaat pendekatan sistem adalah sebagai berikut:
Melalui pendekatan sistem, arah dan tujuan pembelajaran dapat direncanakan dengan jelas. Perumusan tujuan merupakan salah satu karakteristik pendekatan sistem. Penentuan komponen-komponen pembelajaran pada dasarnya diarahkan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, segala usaha baik yang dilakukan guru maupun siswa pada dasarnya adalah mengarahkan tercapainya tujuan.
Pendekatan sistem menuntun guru pada kegiatan yang sistematis. Berfikir secara sistem adalah berfikir runtut, sehingga melalui langkah-lagkah yang jelas dan pasti, memungkinkan hasil yang diperoleh akan maksimal. Sebab malalui langkah yang sistematis, kita dituntun oleh melakukan proses pembelajaran setahap demi setahap dari seluruh rangkaian kegiatan. Sehingga kemungkinan kegagalan dapat diminimalisir.
Pendekatan sistem dapat merancang pembelajaran dengan mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang tersedia. Sistem dirancang agar tujuan pembelajaran dapat diraih dengan optimal. Dalam hal ini berfikir sistematis, berarti berfikir bagaimana agar tujuan yang telah ditetapkan, dapat dicapai oleh siswa
Pendekatan sistem dapat memberikan umpan balik. Melalui proses umpan balik dalam Pendekatan sistem dapat diketahui, apakah tujuan itu telah berhasil dicapai atau belum. Hal ini sangat penting, sebab mencapai tujuan merupakan tujuan utama dalam berfikir sistematis
Namun, dalam pelaksanaannya, ada beberapa variabel yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan itu, diantaranya:
Faktor Guru
Guru merupakan komponen yang sangat menentukan. Hal itu, disebabkan karena guru adalah orang yang berhadapan langsung dengan siswa. Dalam sistem pembelajaran, guru bias berfungsi sebagai desainer pembelajaran, implementator atau keduanya. Sebagai perencana, guru dituntut untuk memahami secara benar kurikulum yang berlaku, karakteristik siswa, fasilitas dan sumber daya yang ada, sehingga semuanya dijadikan komponen-komponen dalam menyusun rencana dan desain pembelajaran.
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai implementator dan perancang pembelajaran, guru dituntut berperan sebagai model dari rancangan yang telah dibuatnya (suri teladan).
Faktor siswa
Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh perkembangan anak yang tidak sama itu, disamping arak karakteristik lain yang melekat pada diri anak.
Faktor sarana dan Prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung pembelajaran secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat-alat pekajaran, perlengkapan sekolah, dan lain sebagainya; sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Misalnya, jarak menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil, dan lain sebagainya. Kelengkapan sarana dan prasarana akan membantu guru dalam penyelenggaraan proses pembelajaran. Dengan demikian, sarana dan prasana merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran.
Terdapat beberapa keuntungan bagi sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana. Pertama, kelangkapan sarana dan prasarana dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar. Kedua, kelangkapan sarana dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan kepada siswa untuk belajar.
Faktor Lingkungan
Dilihat dari dimensi lingkungan, ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu factor organisasi kelas dan faktor iklim sosial Psikologis.
Faktor organisasi kelas yang di dalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kelompok belajar yang besar dalam satu kelas berkecenderungan:
Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumlah siswa. Sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempit juga.
Kelompok belajar akan kurang mampu memanfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada. Misalnya dalam penggunaan waktu diskusi; semua siswa yang terlalu banyak akan memakan waktu yang banyak pula, sehingga sumbanga pikiran akan sulit didapatkan dari setiap siswa
Kepuasan belajar setiap siswa akan cenderung menurun. Hal ini disebabkan kelompok belajar yang terlalu banyak akan mendapatkan pelayanan yang terbatas dari setiap guru, dengan kata lain perhatian guru akan semakin terpecah.
Perbedaan individu antar anggota akan semakin tampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan. Kelompok yang terlalu besar cenderung akan terpecah ke dalam sub-sub kelompok yang saling bertentangan.
Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecenderungan akan semakin banyak siswa yang terpaksa menunggu untuk sama-sama maju mempelajari materi pelajaran baru.
Anggota kelompok yang terlalu banyak akan cenderung semakin banyaknya siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok itu.
Faktor lain dari dimensi lingkungan yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran adalah faktor iklim sosial psikologis. Maksudnya adalah keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim sosial ini dapat terjadi secara internal maupun eksternal.
Secara internal adalah hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah.misalnya; iklim sosial antara siswa dengan siswa; antara guru dengan guru bahkan antara guru dengan pimpinan sekolah.
Adapun yang dimaksud secara eksternal adalah keharmonisan hubungan antara antara pihak sekolah dengan dunia luar. Misalnya; hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat, dan lain sebagainya.
Dari semua penjelasan diatas, sebenarnya aplikasi pendekatan sistem pembelajaran PAI terdiri tiga bagian, memiliki ciri-ciri adanya perencanaan, kesalingtergantungan dan tujuan yang hendak dicapai.
Dalam perencanaan itu terdapat beberapa komponen yang saling mempengaruhi, dan bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan. Sehingga dalam pendekatan sistem pembelajaran PAI, semua komponen memiliki makna dalam pencapaian sebuah tujuan. Artinya, pencapaian tujuan itu akan terhambat manakala ada beberapa komponen yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.















BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
1. Sistem adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling berintegrasi, saling berfungsi secara kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
2. Pendekatan sistem pembelajaran PAI adalah kumpulan dari sekian banyak komponen yang saling berintegrasi, saling berfungsi secara kooperaatif dan saling mempengaruhi dalam rangka mewujudkan generasi-genarasi yang beriman dan bertakwa.
3. Aplikasi pendekatan sistem pembelajaran PAI terdiri tiga bagian, memiliki ciri-ciri adanya perencanaan, kesalingtergantungan dan tujuan yang hendak dicapai.
4. Dalam perencanaan itu terdapat beberapa komponen yang saling mempengaruhi, dan bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan. Sehingga dalam pendekatan sistem pembelajaran PAI, semua komponen memiliki makna dalam pencapaian sebuah tujuan. Artinya, pencapaian tujuan itu akan terhambat manakala ada beberapa komponen yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.












KEPUSTAKAAN

Hamalik, Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 10.
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000Syah,. Darwyn, Drs. M.pd., dkk., Perencanaan Sistem Pengajaran PAI, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007).
Lembaga Administrasi Negara RI, 1997. Sistem Administrasi Negara REpublik Indonesia, (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung).
Sanjaya, Wina, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2008).
Suparman, Atwi, Desain Instruksional, (Jakarta: Pusat Antar universitas untuk peningkatan dan pengembangan aktivitas intruksional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan)
http://Suplirahim.multiply.com/jurnal/item/46/

Senin, 20 Desember 2010

Tripusat Pendidikan

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan banyak aspek-aspek yang mendukung atas keberhasilanya suatu pembelajaran, dan untuk itu aspek-aspek ini perlu di ketahui bagi siapa saja yang berkecimpung atau menggeluti dunia pendidikan tersebut.
Apabila seorang pendidik mampu menguasai dan memahami aspek-aspek yang diperlukan dalam pendidikan, sudah barang tentu kegiatan belajar-mengajar menjadi efektif dan terpadu atau lebih jelasnya membawa keberhasilan dalam pembelajaran .
Dan di makalah ini kami memaparkan beberapa pendidikan yang terdapat dan terealisasi dalam kehidupan nyata, yang mana pendidikan-pendidikan tersebut menjadi factor-faktor dalam mengemban pendidikan.


B. Rumusan Masalah
1. Apa saja pendidikan tersebut??
2. Apa keterkaitan pendidikan-pendidikan tersebut dalam proses pembelajaran?
















BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan Dalam Keluarga
Mengingat salah satu fungsi,dari keluarga adalah sebagai pendidik (abu Ahmadi),maka dari itu bperanan orang tua sangat penting dalam pendidikan. Pendidikan dalam keluarga yang terutama berlangsung secara informal merupakan pendidikan yang pertama dan utama bagi seorang anak, Dalam keluarga keperibadian seorang anak itu mulai di bentuk. Apakah seorang anak akan percaya diri, suka bergaul, mengnal sopan santun, dan apakah ia siap atau tidak siap memasuki dunia pendidikan sekolah. Dan itu sangat bergantung terhadap pendidikan yang di terima dalam keluarga. Dalam keluarga hubungan dengan orang tua bersifat alami dan teradisi.anak-anak mendidik dirinya sendiri karena hidup dalam keluarga (sebagaimana hidup dalam masyarakat).seorang anak sering kali mengalami berbagai kondisi yang menunntut dirinya untuk belajar mendidik dirinya sendiri. Karena itu pendidikan dalam keluarga lebih bertujuan kepada pendidikan watak atau kepribadian anak teruama mengenai akhlak.

B. Pendidikan Di Sekolah
Sekolah mupakan tempat pendidikan formal, pendidikan yang berlangsung di sekolah atau di madrasah termasuk di perguruan tinggi juga terjetu kepada pengembangan kepribadian siswa atau mahasiswa ataupun peserta didik. Guru sebagai pengajar sekaligus pendidik mengajarkan pengetahuan,nilai-nilai, dan ketrampilan siswa di sekolah adalah hubungan yang bersifat formalitas karena tugas.
Sekolah mengemban tugas untuk melaksanakan upaya-upaya menglihkan nilai budaya-budaya masyarakat dengan mengajarkan nilai-nilai yang menjadi way of live masyrakat dan bangsanya. Untuk memenuhi fungsi dan tugasnya sekolah menetapkan program dan kurikulum pendidikan.
Sekolah sebagai lembaga yang berfungsi untuk melatih dan mengembangkan tenaga kerja mempunyai dua hal : pertama, sekolah disiapkan untuk melahirkan tenaga kerja yang professional dalam bidang spesialisasi teertentu. Untuk memenuhi ini berbagai bidang studi di buka untuk menyiapkan tenaga ahli, terampil dan berkemampuan tinggi dalam bidangnya. Kedua, dapat di gunakan untuk memotivasi para pekerja agar memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dipangkunya .
Sekolah mempunya fungsi mengajar, latihan dan pendidikan. Fungsi pengajaran untuk menyiapkan tenaga yang cakap dalam bidang yang di tekuninya. Fungsin laaatihan untuk mendapatkan tenaga yang terampil sesuai dengan bidangnya, sedang fungsi pendidikan untuk menyiapkan seorang pribadi yang baik untuk menjadi seorang pekerja sesuai dengan bidangnya. Jadi fungsi pendidikan ini merupakan pengembangan kepribadian social.

C. Pendidikan Dalam Masyarakat
Pendidikan yang terjadi dalam masyarakat dapat bersifat non formal dan in formal. Pendidikan yang bersifat non-formal yaitu sengaja di selenggarakan oleh badan atau blembaga masyarakat yang berfungsi mendidik, seperti: pelahan –pelatihan, organisasi pemuda, kursus-kursus dll. Dan yang bersifat in-formal berlangsung melalui pergaulan atau melalui interaksi antar anggota masyarakat, dimana dalam interaksi itu terjadi proses imitasi, indentifikasi dan sosialisasi. Pendidikan dalam masyarakat tidak semata bertujuan untuk anak yang belum dewasa tetapi juga kepada orang yang telah dewasa, atau bagi siapa saja yang terus-menerus ingin mengembangkan dirinya. Karena itu pendidikan dalam masyarakat terutama merupakan pendidikan diri sendiri. Pendidikan yang berlangsung dalam masyarakat secara in-formal itu merupakan hidden curriculum yang justru banyak pengaruhnya pada bentuk kepribadian seorang anak.
Sebagai lembaga peniddikan, maka ketiga lingkungan(tripusat). Pendidikan itu sangat berperan dalam mengemban kepribadian seorang anak. Seorang anak adalah sekaligus sebagai anak lingkungan keluarga,siswa di sekolahnya, dan sebagai anggota di dalam masyarakatnya. Pengaruh itu berbeda-beda, dan mungkin sekali tidak atau bertentangan, dan bila demikian dapat merugikan sin anak oleh karena itu sangat penting adanya saling kerja sama, dan saling peduli antara ketiga pusat pendidikan itu, sebab keadaan itu sangat mempengaruhi kalitas pendidikan.







BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pendidikan dalam keluarga yang terutama berlangsung secara in-formal merupakan pendidikan yang ertama dan utama bagi seorang anak. Sebagian besar waktu sehari-hari seorang anak berada dalam keluarga. Dalam keluarga kepribadian seorang anak itu mulai di bentuk, penididikan dapat terlaksana dalam keluarga dan ini lebih tertuju pada pendidikan watak atau kepribadian anak terutama mengenai akhlak.
2. Pendidikan dalam sekolah merupakan tempat pendidikan formal, pendidikan yang berlangsung di sekolah atau perguruan tinggi juga bertujuan kepada pengembangan epribadian siswa ataun peserta didik. Guru sebagai pengajar dan pendidik memberikan pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan siswa serta membentuk sikap dan watak mereka. Hubungan guru dan siswa adalah hubungan yang bersifat formalitas karena tugas.
3. Pendidikan yang terjadi dalam masyaraakat dapat bersifat non-formal dan in-formal. Dalam masyarakat berlangsung pula nilai-nilai pelestarian budaya, dan mengembangan kebudayaan yang di lakukan oleh badan atau lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat. Pedidikan yang terdapat dalam marsyarakat tidak semuanya mengarah pada kebaikan maka di perlukan kerja sama, saling mengisi dan saling peduli antara ketiga pusat pendidikan.











DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Abu. Sosiologi Pendidikan. Rineka cipta.Jakarta:2004
http://pakguruonline.pendidikan.net/buku tua pakguru dasar kpdd 152.html
http://fatamorgana.com

Perkembangan Studi Islam Di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alamnya (SDA) baik dari hasil laut, dan bumunya dan letaknya yang geografis dengan tanah yang subur maka itu tidak heran lagi jika banyak negara-negara tetangga yang bedatangan baik untuk sekedar berdagang maupun memulikinya (menjajah) dan menyabarkan agama yang dipercayainya baik agama Yahudi, Nasrani, maupun Islam.
Dan bahkan sejarah telah mencatat semua agama itu disisarkan dan dan dikembangkan oleh para pembawanya yang disebut dengan utusan Tuhan dan meyakini atas apa yang diperintahkan-Nya bahkan para penyabar tidak menghiraukan dekat jauh tempat yang ditujunya misalnya di Indonesia.
Lewat makalah ini pemakalah mencoba membahas tentang apa yang ada di Negara Indonesia yang tercinta yaitu tentang sejarah masukya islam di Indonesia, perkambangan serta para tokoh yang berpengaruh setika itu, mudah-mudahan dengan makalah yang akan kami sajikan ini dapat bermanfa'at bagi kita semua. Amiiin

A.    Rumusan Masalah
  1. sejarah masuknya isalm di Indonesia
  2. Perkembangan studi islam di Indonesia
  3. Tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam prkembangan islam di Indonesia













BAB II
PEMBAHASAN

  1. Masuk dan Berkembangnya Islam Di Indonesia
Perkembangan penyiaran agama islam termasuk paling dinamis dan gepat kalau dibandingkan dengan agama-agama lainya. Hal tersebut diukur dengan kurun waktu yang sebanding dan dengan sikon alat komunikasi dan transportasi yang sepadan. Dan tepatnya pada zaman usman bin affan islam telah masuk di negeri-negeri bgian timur sampai ke tiongkok yang dibawa oleh para pedagang zaman dinasti Tang. Dan karena fator khusus yang ada pada ajaran islam baik dalam bidang akidah, syariah dan akhlaknya yang mudah dimengerti oleh semua lapisan masyarakat maka islam bias diamalkan dengan sangat luwes, lebih-lebih pada maeyarakat Indonesia yang nota benehnya sangat awam sekali. Disini ada dua factor yang menyebabkan Indonesia mudah dikenal oleh bangsa-bangsa lain, khususnya oleh bangsa-bangsa di timur tengah dan timur jauh sejak dahulu kala yaitu:
1)      factor letak geografisnya yang setrategis.indonesia letaknya berada di persimpangan jalan raya internasional dari jurusan timur tengah menuju tiongkok,melalui lautan dan jalan menuju benua amerika dan australi.
2)      Factor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang diperlukan oleh bangsa-bangsa lain,misalnya:rempah-rempah.

       Oleh karena itu tidak mengherankan jika masuknya islam di indonesia  ini terjasi tidak terlalu jauh dari zaman kelehiranya dan kita harus bias membedakan antara datangnya orang islam yang pertama di Indonesia misalnya:sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu orang yahudi yang menetap  dan berdagang dikota-kotabesar Indonesia tetepi sampai saat ini tidak pernah ada gerakan penyiar agama yahudi di Indonesia sehigga orang mengangap agama yahudi di Indonesia belum masuk ke Indonesia.
       Dan kalau benar agama islam dalam arti para pedagang islam telah masuk ke tiongkok pada zaman khalifah usman,maka tidak mustahil jika ada pedagang islam yang mampir atau menetap di Indonesia sekitar zaman itu dan menyebarkan agama yang di bawanya.


B.PERKEMBANGAN STUDI ISLAM DI INDONESIA
 Dalam perkembangan islam di Indonesia berkembang pula studi islam yang bertingkat dan bias di gambarkan bahwa lembaga atau system pendidikan di indonesia dimulai dari sistem sebagai berikut:
1.   langgar yaitu suatu suatu pendidikan yang di jalankan di musholah,masjid, atau rumah guru .adapun kurikulum yang dipakai ketika itu bersifat elementer yaitu mempelajari huruf-huruf arab yang di kelole oleh ustadz,mudin, ataupun alim.mereka ini umumnya berfungsi sebagai guru agama sekaligus sebagai tukang baca doa, Di musholah atau masjid seorang guru dan murid duduk bersila tanpa bangku.dan untuk mengajar ada dua cara .pertama dengan cara sorogan yaitu seorang murid berhadapan langsung dangan guru yang bersifat perorangan. Kedua dengan cara halaqah ,yaitu seorang guru yang di kelilingi oleh para muridnya .
2.   pesantren yaitu pendidikan ini busa di identikan dengan kutthab , dimana seorang kyai dengan sarana masjid atau pondok sebagai tampat tinggal santri.dalam pesantren ada dua cara yang dipakai yaiyu sorogan dan hallaqah,hanya saja sorogan di pesantren biasanya dengan cara santri membaca kitab sementara kyai nya mendengarkan sekaligus mengoreksi apabila ada kesalahan.
3.   kerajaan, dalam system ini ada beberapa kerajaan yang mempunyai system sendiri-sendiri .pertama kerajaan samudra pasai di aceh di dirikan oleh malik ibrahim bin mahdunyang yang berdiri pada abad 10 M .adapun materi yang diajarkan yaitu fiqih mazhab syafii dan sisi lembaganya bersifat informal. Begitu juga dengan kerajaan-karajaan lain ada kalanya sistemnya sama dan kadangkala juga berbeda.

      Kemudian pada abad ke-19 perkembangan di Indonesia mulai lahir sekolah model belanda ,sekolah eropa,vernahuler. Sekolah eropa khusus bagi orang eropa dan sekolah vernshuler khusus bagi orang belanda. Di samping itu ada sekolah pribumi yang mempunyai system yang sama denga sekolah-sekolan belanda.
     Dan pada dasawarsa abad ke-20 baru muncul madrasah dan sekolah-sekolah model belenda oleh organisasi islam, seperti NU, muhammadiyah dan lain-lain. Dan tepatnya pada tahun 1906 organisasi-organisasi tersebut mendirikan beberapa tempet belajar seperti mamba'ul ulum yang didirikan pada 1906 oleh susuhunan pakubuwono, sekolah adabiyah pada 1907 oleh Abdullah ahmad dan lai-lainnya.
C.TOKOH TOKOH YANG BERPENGARUH DALAM PERKEMBANGAN USLAM DI INDONESIA
       Penyebaran dan perkembangan kebudayaan islam di Indonesia terutama terletak pada pundak para ulama setelah para pedagang-pedagang dan pelayar. Ada dua cara yang ditempuh oleh para ulama :pertama, membentuk kader-kader ulama yang akan bertugas sebagai bubaligh ke daerah-daerah yang lebih luas.cara ini di praktikkan di lembaga-lambaga pendidikan seperti pesantren islam. Kedua: melalui karya-karya yang tersebar luas dan di baca oleh masyarakat umum di berbagai tempat. Karya-karya ini mencerminkan perkembangan dan ilmu-ilmu agama di indomesia pada saat ini. Ada beberapa ilmuan atau tokoh yang berperan ketika itu yaitu hamzah fansuri ,syamsyudin al-sumatrani ,nuruddin al-raniri, abdul rauf singkel, dan lainnya. Ulama-ulama diataslah yang banyak memperkenalkan pemikiran tasawuf,filsafat,dan ilmu kalam.





















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
     1.   islam di Indonesia di bawa oleh para pedagang dan para nelayan yang berlayar di perairan iandonesia.
      2.   untuk sarana dan system yang di gunakan pada saat itu adalah sangat tradisional .
      3.   islam tersebar melalui pundak para ulama yang berperan penuh terhadap perkembangan pendidikan islam.

























DAFTAR PUSTAKA

Zuhairin.2008.sejarah pendidikan islam .jakarta:bumi aksare
Nasution khoirudin .2007. pengantar studi islam.yokyakarta.academia
Mubarak ,zakky. 2007. menjadi cendikiawan muslim.jakarta.pt maghenta bhakti guna